Nasional . 24/12/2025, 20:41 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selalu menjadi momen yang dinanti jutaan masyarakat Indonesia. Stabilitas pekerjaan, jenjang karier jelas, serta jaminan kesejahteraan jangka panjang membuat seleksi CPNS selalu dibanjiri pelamar.
Namun, di balik ketatnya persaingan itu, ternyata ada sejumlah instansi pemerintah pusat yang justru relatif sepi peminat.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama bagi calon pelamar yang ingin menyusun strategi lebih realistis.
Pasalnya, peluang lolos CPNS bukan hanya ditentukan oleh nilai ujian, tetapi juga oleh jumlah pesaing dalam satu formasi. Semakin sedikit pelamar, semakin besar peluang untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Sepinya peminat pada beberapa instansi bukan tanpa alasan. Berdasarkan tren seleksi CPNS tahun-tahun sebelumnya, setidaknya ada beberapa faktor utama yang memengaruhi rendahnya minat pelamar, antara lain:
Nama instansi kurang populer
Banyak pelamar hanya fokus pada kementerian besar atau lembaga yang sering muncul di media, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum dan HAM, atau Kementerian Perhubungan.
Lingkup kerja yang dianggap spesifik
Beberapa instansi memiliki tugas teknis, riset, atau pengawasan yang dinilai kurang “fleksibel” oleh pelamar umum.
Persepsi lingkungan kerja yang birokratis
Lembaga strategis dengan sistem kerja ketat sering dianggap menantang bagi pelamar muda.
Kurangnya informasi publik
Minimnya publikasi membuat instansi tertentu luput dari radar para pencari kerja.
Padahal, instansi yang sepi peminat tidak berarti minim peluang karier. Justru sebaliknya, banyak di antaranya menawarkan pengalaman kerja yang mendalam, kontribusi langsung bagi negara, dan kesempatan berkembang yang luas.
Bagi pelamar yang ingin meningkatkan peluang lolos, memilih instansi dengan tingkat persaingan lebih rendah bisa menjadi langkah strategis. Dibandingkan harus bersaing dengan puluhan ribu orang dalam satu formasi, memilih instansi sepi peminat memungkinkan fokus pada kualitas persiapan tanpa tekanan kompetisi ekstrem.
Instansi semacam ini juga sering menjadi “jalan masuk” yang baik untuk membangun karier ASN jangka panjang.
Berikut deretan instansi pemerintah pusat yang tercatat memiliki jumlah pelamar relatif lebih sedikit dibandingkan instansi populer, meskipun membuka formasi yang cukup besar:
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK)
Formasi: 63
Pelamar: 345
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB)
Formasi: 61
Pelamar: 374
Sekretariat Jenderal Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Setjen Komnas HAM)
Formasi: 38
Pelamar: 416
Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat (Sekjen MPR)
Formasi: 25
Pelamar: 427
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Formasi: 500
Pelamar: 400
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)
Formasi: 53
Pelamar: 745
Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Setjen Wantannas)
Formasi: 64
Pelamar: 838
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)
Formasi: 194
Pelamar: 877
Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial (Setjen KY)
Formasi: 145
Pelamar: 970
Badan Informasi Geospasial (BIG)
Formasi: 82
Pelamar: 1.107
Jika dibandingkan dengan instansi favorit yang bisa menampung puluhan ribu pelamar untuk formasi serupa, angka ini terbilang jauh lebih rendah.
Perlu dipahami, instansi-instansi tersebut justru memegang peran strategis dalam pemerintahan. Mulai dari penguatan riset nasional, perlindungan HAM, reformasi birokrasi, hingga ketahanan nasional dan ideologi negara.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media