fin.co.id - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) menilai Jawa Tengah sebagai salah satu daerah dengan basis pekerja migran Indonesia (PMI) yang kuat, terorganisasi, dan berbasis kompetensi. Penilaian ini sejalan dengan strategi pemerintah dalam memperluas serta memperkuat kebijakan penempatan PMI ke berbagai negara tujuan, termasuk kawasan Amerika dan Eropa.
Direktur Jenderal Penempatan KemenP2MI, Ahnas, menyampaikan bahwa PMI asal Jawa Tengah memiliki karakter khas berupa kekompakan, organisasi kelompok yang rapi, serta tingkat keberlanjutan kerja yang cukup tinggi di negara penempatan.
"PMI asal Jawa Tengah mudah dikenali dan memiliki pola kelompok yang kuat, termasuk di Amerika dan Eropa," ujar Ahnas saat melakukan audiensi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah di Kantor BP3MI Jawa Tengah.
Menurut Ahnas, karakter tersebut menjadi modal penting dalam mendukung kebijakan penempatan PMI yang kini difokuskan pada peningkatan kualitas melalui pendidikan dan penguasaan kompetensi kerja. Saat ini, KemenP2MI memprioritaskan penempatan PMI di sektor formal dengan mengacu pada standar kompetensi kerja yang telah ditetapkan.
"Penempatan ke berbagai negara, baik Amerika, Afrika, Eropa, maupun sektor domestik, kini dirancang berbasis kompetensi," jelasnya.
Ia menambahkan, sektor pekerja rumah tangga atau domestic worker secara bertahap juga diwajibkan memenuhi standar kompetensi tertentu. Meski masih terdapat beberapa pengecualian, secara umum arah kebijakan penempatan PMI telah mengedepankan pemenuhan standar kerja yang jelas dan terukur.
Untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut, KemenP2MI memperkuat kerja sama dengan Bursa Kerja Khusus (BKK) serta menggencarkan sosialisasi penempatan PMI berbasis kompetensi ke sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jawa Tengah. Namun, Ahnas menegaskan bahwa kebijakan ini tidak menyasar siswa yang masih aktif bersekolah.
Sasaran utama program adalah lulusan pendidikan yang telah menyelesaikan masa belajar, kemudian mengikuti pelatihan lanjutan, penguatan kemampuan bahasa, serta peningkatan keterampilan kerja sesuai kebutuhan pasar.
Sementara itu, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri KemenP2MI, Dwi Setiawan Susanto, mengungkapkan bahwa minat masyarakat Indonesia untuk bekerja di luar negeri masih tergolong tinggi dengan ragam sektor yang semakin luas.
"Peminat kerja ke luar negeri datang dari berbagai sektor, mulai dari hospitality, caregiver, hingga pengemudi truk," kata Dwi.
Ia menyebutkan bahwa Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Turki masih menjadi negara tujuan favorit. Ke depan, KemenP2MI membuka peluang perluasan negara tujuan seiring dengan penguatan kerja sama internasional dan pengembangan skema penempatan baru.
Dari perspektif daerah, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Aziz, menekankan pentingnya penyiapan calon PMI secara sistematis dan berkelanjutan. Menurutnya, penguatan ekosistem pendidikan, pemetaan minat calon pekerja, serta pemahaman kebutuhan pasar kerja global menjadi kunci utama, khususnya untuk negara tujuan seperti Jepang dan Jerman.
"Penyiapan ke Jepang rata-rata membutuhkan waktu sekitar lima bulan, sementara ke Jerman bisa mencapai sembilan bulan dan memerlukan pelatihan lanjutan," ungkap Aziz.
Ia juga menyoroti masih adanya jarak antara kurikulum pendidikan formal dengan kurikulum lembaga pelatihan kerja. Oleh karena itu, Aziz menilai sinkronisasi kebijakan lintas kementerian di tingkat nasional sangat diperlukan agar proses penyiapan PMI dapat berjalan lebih efektif dan selaras dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
Candra Pratama/Disway