“Kenaikan pencurian di dalam pesawat tampaknya bersifat terorganisasi dan sebagian besar dijalankan dari China,”
ujar Wakil Presiden Senior International Air Transport Association (IATA), Nick Careen.
Para pelaku biasanya membeli tiket penerbangan jarak jauh, bahkan kelas bisnis, untuk mengincar penumpang dengan barang bernilai tinggi.
Singapura menjadi salah satu negara yang paling vokal dalam menindak kasus pencurian di pesawat. Sepanjang 2025, empat warga negara China telah didakwa atas pencurian yang terjadi di penerbangan menuju Bandara Changi.
Salah satu kasus paling mencolok melibatkan Liu Ming (26), yang dijatuhi hukuman 20 bulan penjara pada 23 Desember 2025.
Liu mencuri tas berisi barang mewah senilai lebih dari 100.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,6 miliar, saat terbang di kelas bisnis Singapore Airlines dari Dubai ke Singapura.
“Tiket kelas bisnisnya diduga dibiayai sindikat,” ungkap penyidik.
Komandan Polisi Bandara Singapura, Malathi Muthu Veran, menegaskan pentingnya laporan cepat dari penumpang.
“Semakin cepat dilaporkan, semakin besar peluang kami mencegah pelaku berpindah ke penerbangan lain,” ujarnya.
Pakar penerbangan Dr Mohd Harridon Mohamen Suffian dari Universiti Kuala Lumpur Business School menjelaskan, pelaku biasanya beraksi saat tas kabin tidak diawasi.
“Pelaku sangat jeli melihat celah. Mereka menunggu penumpang tertidur atau awak kabin sibuk, lalu beraksi dengan cepat,” jelasnya.
Pelaku juga sering berpura-pura memeriksa tas sendiri di kompartemen atas, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
Sejumlah maskapai besar seperti Emirates, Cathay Pacific, dan Singapore Airlines diketahui telah memasang kamera pengawas di kabin pesawat.