fin.co.id - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang Selatan menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) guna menindaklanjuti kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi di SD Negeri Rawabuntu. Kasus yang melibatkan seorang tenaga pendidik terhadap belasan siswa laki-laki ini memicu keprihatinan mendalam dari legislatif.
Ketua Komisi II DPRD Kota Tangerang Selatan, Ricky Yuanda Bastian, menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran berat yang tidak dapat ditoleransi. Hal ini ia sampaikan usai pertemuan di Gedung DPRD Tangsel, Senin (26/1/2026).
"Secara nurani, ini tidak bisa dibenarkan. Korban adalah anak-anak dan pelakunya adalah guru mereka sendiri. Ini sudah luar biasa tidak normal," ujar Ricky kepada wartawan.
Terkait proses hukum yang tengah berjalan, Ricky menyatakan bahwa DPRD mendorong aparat penegak hukum untuk memberikan sanksi seberat-beratnya kepada pelaku. Menurutnya, penegakan hukum yang tegas sangat diperlukan sebagai bentuk perlindungan terhadap anak dan efek jera.
"Kami berharap hukum ditegakkan setegas-tegasnya. Jika memungkinkan, berikan hukuman maksimal sesuai aturan yang berlaku. Kita adalah negara hukum, dan putusan harus mendasari keadilan bagi korban," tegasnya.
Dalam perkembangannya, Ricky mengungkapkan adanya informasi mengenai potensi penambahan jumlah korban. Berdasarkan data sementara yang diterima legislatif, jumlah anak yang menjadi korban diduga mencapai puluhan orang.
"Informasi terakhir yang kami dapatkan, jumlahnya mencapai 29 anak. Namun, untuk angka pastinya, kami masih menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian," kata Ricky.
Mengenai rincian tindakan kekerasan seksual yang dilakukan, termasuk isu tindakan medis tertentu, Ricky mengaku belum menerima hasil visum secara resmi. Ia menyebutkan bahwa informasi sementara menunjukkan adanya pelecehan fisik dan oral, namun belum bisa memastikan adanya penetrasi.
"Kami menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan dan hasil visum kepada pihak Polres. Mereka yang memiliki otoritas untuk menjelaskan detail teknis medisnya," tambahnya.
Kasus ini kini dalam penanganan serius kepolisian. DPRD Tangsel berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini guna memastikan pemulihan trauma bagi para korban serta perbaikan sistem pengawasan di lingkungan sekolah agar kejadian serupa tidak terulang kembali.