fin.co.id - Beredar video kerusuhan antar suporter dalam pertandingan Liga 2 Pegadaian musim 2025-2026 antara Sriwijaya FC vs Sumsel United yang terjadi pada Sabtu 24 Januari 2026 sore hari WIB.
Berdasarkan video yang beredar di media sosial @Mafiawasit yang dilihat pada Senin 26 Januari 2026, terlihat salah satu suporter turun ke tribun pertandingan Sriwijaya FC vs Sumsel United.
Lalu seorang pria berbaju hitam dan celanan jens menendang salah satu suporter tersebut hingga terjatuh. Namun ada pengawas pertandingan melerai mereka berdua. Aksi tersebut memicu kemarahan penonton hingga melemparkan botol dan barang lainnya ke arah tribun.
Tak sampai disitu suporter tersebut turun ke tribun dan situasi di Stadion semakin tidak kondusif hingga terjadinya kerusuhan.
Kerusuhan Pecah di Jakabaring, Operator I.League Kecam Aksi Anarkis Suporter Sriwijaya FC
Operator kompetisi I.League menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden kerusuhan suporter yang mewarnai laga pekan ke-17 Pegadaian Championship 2025/2026. Kericuhan tersebut meletus sesaat setelah pertandingan antara Sriwijaya FC melawan Sumsel United FC berakhir di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, Sabtu (24/1) sore.
Pihak I.League menilai tindakan anarkis ini telah mencederai semangat sportivitas sepak bola nasional. Melalui pernyataan resminya, operator kompetisi menegaskan tidak akan menoleransi segala bentuk kekerasan, ujaran kebencian, maupun pelanggaran regulasi keselamatan yang terjadi di area stadion.
Berdasarkan laporan resmi pengawas pertandingan, bibit ketegangan sebenarnya sudah muncul sejak laga berlangsung. Sebagian suporter tuan rumah kedapatan meneriakkan yel-yel bernada cacian dan penghinaan yang tidak pantas. Situasi semakin memanas hingga mencapai puncaknya setelah wasit meniup peluit panjang sekitar pukul 17.33 WIB.
Sekelompok suporter nekat menerobos masuk ke dalam area lapangan atau Field of Play (FOP). Massa mengklaim aksi ini merupakan bentuk protes keras terhadap manajemen klub terkait penurunan prestasi Sriwijaya FC pada musim ini. Sayangnya, aksi penyampaian aspirasi tersebut berubah menjadi tindakan anarkis saat suporter lain dari berbagai tribun ikut merangsek masuk ke tengah lapangan.
Keadaan yang tidak terkendali memaksa para pemain serta ofisial Sumsel United FC segera menyelamatkan diri menuju ruang ganti. Saat para pemain berlari ke arah terowongan (tunnel), massa melempari mereka dengan botol air mineral.
Selain pelemparan botol, laporan keamanan mencatat adanya tindakan pengeroyokan terhadap seorang petugas keamanan atau steward. Korban yang saat itu berusaha menghalau massa agar tidak masuk ke lapangan justru mengalami luka memar akibat kekerasan fisik. Tidak berhenti di situ, oknum suporter juga menyalakan dan melemparkan flare ke area lintasan lari serta tribun barat yang memicu kepanikan di dalam stadion.
Panitia pelaksana (Panpel) pertandingan sebenarnya telah berupaya meredam kemarahan massa melalui imbauan pengeras suara serta pendekatan persuasif. Setelah ketegangan berlangsung selama kurang lebih 15 menit, massa akhirnya berangsur membubarkan diri sekitar pukul 17.45 WIB dan kondisi stadion kembali kondusif.
I.League kini tengah mempelajari seluruh bukti dan laporan dari perangkat pertandingan. Mereka berjanji akan menjatuhkan sanksi tegas sesuai dengan regulasi dan kode disiplin yang berlaku. "Segala bentuk tindakan anarkis tidak memiliki tempat dalam sepak bola kita. Kami akan menelaah kasus ini secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan resmi," tulis pernyataan operator I.League.