fin.co.id - Wilayah Kabupaten Tangerang kini berada dalam kondisi darurat menyusul meluasnya sebaran banjir yang melanda 27 kecamatan hingga Rabu (28/1/2026). Data terbaru BPBD Kabupaten Tangerang mencatat sedikitnya 141.067 jiwa atau sekitar 35.960 kepala keluarga kini berjuang menghadapi kepungan air yang tak kunjung surut.
Situasi kian kritis memaksa 8.631 warga meninggalkan rumah mereka. Para pengungsi kini menempati lokasi-lokasi darurat, mulai dari musala, tenda pengungsian, hingga kediaman kerabat yang lebih aman.
Titik Ekstrem dan Wilayah Risiko Tinggi
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Ahmad Taufik, mengungkapkan bahwa Kecamatan Kosambi menjadi wilayah dengan dampak paling masif. Di Desa Salembaran Jaya, tercatat 15.816 jiwa terdampak dengan ketinggian air mencapai 80 sentimeter.
Kondisi lebih mengkhawatirkan terpantau di dua wilayah berikut:
• Desa Kohod, Pakuhaji: Merendam 18.000 jiwa dengan ketinggian air mencapai 110 sentimeter.
• Desa Cikande, Jayanti: Menjadi titik paling ekstrem dengan ketinggian air menyentuh 200 sentimeter, memaksa evakuasi total terhadap 1.455 warga.
“Kosambi, Jayanti, Kresek, Gunung Kaler, dan Kronjo saat ini masuk dalam kategori risiko tinggi bencana,” ujar Ahmad Taufik dalam keterangan resminya.
Ancaman Luapan Sungai Cisadane
Meski wilayah perkotaan seperti Tigaraksa dan Kelapa Dua mulai menunjukkan tren surut, ancaman baru justru muncul di pesisir. Meluapnya Sungai Cisadane menyebabkan wilayah Tanjung Burung dan Pangkalan di Kecamatan Teluknaga kembali terendam banjir susulan.
Beberapa titik lain yang masih berstatus siaga meliputi:
• Teluknaga: Desa Tanjung Pasir dan Lemo.
• Pasar Kemis: Desa Gelam Jaya.
• Kecamatan Kronjo dan Mekar Baru: Masih terisolasi genangan air.
Data Dinamis dan Kesiagaan Petugas