fin.co.id - Kelompok militan Palestina, Hamas pada Jumat, 30 Januari 2026 menyerukan agar Israel segera membuka kembali pintu penyeberangan Rafah, yang menghubungkan Gaza ke Mesir.
Dalam sebuah pernyataan, kelompok tersebut menyerukan "transisi segera ke fase kedua" dari gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) di Gaza.
Fase tersebut adalah ketentuan untuk pembukaan kembali Rafah di kedua arah, serta masuknya komite teknokrat Palestina yang baru ditunjuk untuk mengelola wilayah tersebut.
Penyeberangan tersebut, yang terletak di perbatasan selatan dengan Mesir, adalah satu-satunya jalur masuk dan keluar Gaza yang tidak melewati Israel.
Penyeberangan tersebut terletak di wilayah yang dikuasai oleh pasukan Israel. Hingga kini, militer Israel masih mengendalikan lebih dari setengah wilayah Gaza.
Gerbang tersebut merupakan titik masuk vital untuk bantuan, dan PBB, organisasi internasional, serta warga Gaza pada umumnya telah menyerukan agar gerbang tersebut dibuka kembali, mengingat situasi kemanusiaan yang mengerikan di wilayah tersebut.
Israel Berjanji Buka Rafah Setelah Sandera Terakhir Ditemukan
Israel mengatakan pada hari Senin bahwa mereka akan membuka kembali Rafah setelah mendapatkan kembali jenazah sandera terakhir yang ditahan di Gaza.
Sandera tersebut adalah petugas polisi Ran Gvili, yang tewas dan akhirnya dimakamkan di Israel pada hari Rabu. Pemerintah Israel belum membuat pengumuman resmi tentang Rafah sejak saat itu.
Sebelumnya pada bulan Januari, AS mengumumkan bahwa gencatan senjata telah memasuki fase kedua, yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang secara definitif.