fin.co.id - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyatakan, bahwa konsep sekolah terintegrasi kini sedang digodok untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas, merata, dan terjangkau bagi seluruh anak Indonesia.
Konsep ini diproyeksikan menjadi solusi atas persoalan klasik pendidikan nasional, mulai dari ketimpangan mutu antarwilayah hingga rendahnya kualitas sekolah di sejumlah daerah, khususnya di luar pusat-pusat perkotaan.
Menteri Koordinator PMK Pratikno memimpin langsung rapat tingkat menteri untuk mematangkan konsep sekolah terintegrasi pada Kamis, 29 Januari 2026.
Dalam rapat tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan manusia Indonesia.
Pratikno menekankan bahwa sekolah terintegrasi tidak boleh dimaknai sebatas pembangunan fisik sekolah baru. Lebih dari itu, program ini merupakan transformasi menyeluruh tata kelola pendidikan nasional.
“Ini bukan sekadar pembangunan fisik sekolah, tetapi transformasi tata kelola pendidikan agar setiap anak, di mana pun berada, memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan bermutu,” ujar Pratikno.
Sekolah terintegrasi dirancang hadir minimal satu di setiap kecamatan, bersifat inklusif, dan bebas dari pungutan biaya. Tujuannya jelas, memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal dari akses pendidikan hanya karena faktor geografis maupun ekonomi.
Dari PAUD hingga SMA/SMK dalam Satu Sistem
Berbeda dengan model sekolah konvensional, sekolah terintegrasi akan menyediakan jenjang pendidikan lengkap dalam satu kawasan dan satu sistem tata kelola, mulai dari:
-
PAUD
-
SD
-
SMP
-
SMA/SMK
Dengan sistem ini, peserta didik dapat menempuh pendidikan secara berkesinambungan sejak usia dini hingga menengah, tanpa harus berpindah lingkungan belajar yang drastis.
Selain itu, sekolah terintegrasi akan didukung sarana prasarana modern, tenaga pendidik berkualitas, serta kurikulum holistik yang mengombinasikan kurikulum nasional dengan pengayaan global, tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Pratikno menjelaskan bahwa sasaran utama sekolah terintegrasi adalah peserta didik dari keluarga desil menengah, namun tetap inklusif bagi anak-anak dari kelompok rentan yang belum sepenuhnya terjangkau oleh program bantuan pendidikan lainnya.