Fin.co.id - Rencana hidup Pratu Marinir Febri Bramantio seharusnya memasuki babak baru. Dalam hitungan hari, ia dijadwalkan melangsungkan akad nikah dengan perempuan yang telah lama menantinya. Namun, takdir berkata lain. Tugas negara justru menjadi perjalanan terakhirnya.
Prajurit muda asal Lampung itu gugur saat mengikuti latihan militer di wilayah Cisarua–Lembang, Kabupaten Bandung Barat, akibat banjir bandang dan longsor yang dipicu hujan deras pada 24 Januari 2026.
Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka bagi institusi. Tetapi juga menghancurkan harapan keluarga dan calon istri yang telah menyiapkan hari bahagia.
“Dia pamit dengan senyum, bilang hanya sebentar ke Bandung, lalu pulang untuk menikah,” ungkap salah satu anggota keluarga dengan suara bergetar.
Hujan lebat yang mengguyur kawasan pegunungan Gunung Burangrang memicu tanah longsor besar saat latihan sedang berlangsung. Sejumlah prajurit dari Batalyon Infanteri (Yonif) 9 Marinir terseret banjir dan tertimbun material tanah.
Pratu Marinir Febri Bramantio termasuk di antara prajurit yang gugur dalam peristiwa tersebut. Meski telah dilakukan upaya penyelamatan, kondisi alam yang ekstrem membuat evakuasi berjalan sulit dan penuh risiko.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tugas militer tidak hanya menghadapi ancaman musuh, tetapi juga bahaya alam yang tak terduga.
Dimakamkan dengan Upacara Kedinasan Penuh Haru
Jenazah Pratu Marinir Febri Bramantio akhirnya berhasil dievakuasi dan dipulangkan ke kampung halaman. Ia dimakamkan secara kedinasan militer di TPU Jeruk Purwosari, Bandar Lampung, pada 27 Januari 2026.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat. Isak tangis keluarga pecah saat tembakan salvo dilepaskan sebagai penghormatan terakhir. Rekan-rekan seperjuangan berdiri tegap, memberikan salam terakhir kepada sahabat yang gugur dalam tugas.
Bagi keluarga, almarhum dikenal sebagai sosok berbakti, rendah hati, dan penuh tanggung jawab. Baik sebagai prajurit, anak, maupun calon suami.
Salah satu kisah paling menyayat hati adalah nasib sang calon istri. Undangan telah disiapkan, hari bahagia telah dihitung. Namun yang datang bukanlah mempelai pria. Melainkan kabar duka.
Rencana pernikahan yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru berubah menjadi kenangan pahit. Keluarga menyebut Febri sebagai pria yang memegang teguh komitmen dan impian sederhana: mengabdi kepada negara dan membangun keluarga.
Duka dari Gorontalo: Serda Mar Rein Pasau
Tragedi longsor di Bandung Barat tidak hanya merenggut satu nyawa. Serda Marinir Rein Pasau, prajurit asal Gorontalo, juga menjadi korban dalam latihan tersebut.