Sejak 2011, Libya terus berada dalam kondisi terfragmentasi. Negara itu dikuasai berbagai milisi bersenjata dan terbelah antara dua pemerintahan yang saling bersaing.
Satu pemerintahan berada di wilayah barat dan didukung PBB, sementara yang lain berbasis di wilayah timur. Dalam situasi tersebut, Saif al-Islam tetap menjadi simbol lama rezim Gaddafi.
Ia menjadi sosok yang dicintai oleh sebagian kalangan, namun juga ditakuti oleh pihak lain. Saif al-Islam berkali-kali menegaskan bahwa dirinya tidak berniat mewarisi kekuasaan ayahnya.
Ia pernah menyatakan, “Kekuasaan bukanlah ladang yang bisa diwariskan.”
Pada 2021, Saif al-Islam mengejutkan publik dengan mengumumkan pencalonannya sebagai presiden Libya. Namun pemilu tersebut kemudian ditunda tanpa batas waktu, menambah ketidakpastian masa depan politik negara itu.
Tewasnya Saif al-Islam Gaddafi berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan politik Libya. Peristiwa ini juga membuka kembali luka lama pasca-revolusi 2011.
Hingga kini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas kematian Saif al-Islam.