fin.co.id - Prabowo Subianto sampaikan peringatan keras: ego dan perselisihan di kalangan elite politik ancam kemajuan bangsa Indonesia. Ia tegaskan bahwa persatuan dan kerukunan para pemimpin adalah kunci utama kemakmuran dan kedamaian negeri ini.
Ringkasan :
- Prabowo Subianto menyoroti dampak negatif ego dan pertikaian antar elite terhadap kemajuan Indonesia.
- Ia memuji Nahdlatul Ulama (NU) sebagai teladan kerukunan di tengah perbedaan.
- Perdebatan dalam demokrasi harus tetap menjaga persatuan dan menghindari kebencian pribadi.
Pesan Keras Prabowo: Ego Elite Politik Hambat Kemajuan Bangsa!
Di tengah riuh rendah dinamika politik nasional, Presiden Prabowo Subianto kembali melontarkan pesan yang mengguncang panggung elite. Ia memberikan peringatan tegas, bahwa kemajuan Indonesia mustahil terwujud jika para pemimpinnya masih terperangkap dalam ego pribadi dan perselisihan yang tak berkesudahan. Intinya, jika para penggerak bangsa tidak mampu bersatu, nasib Indonesia benar-benar terancam.
Pesan menohok ini tidak datang begitu saja. Prabowo mengungkapkannya saat menghadiri acara akbar Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama di Malang, Minggu (8/2/2026). Beliau menekankan sebuah kebenaran fundamental yang terpahat dalam sejarah: kemakmuran sebuah bangsa hanya bisa tumbuh dari akar perdamaian. Dan yang lebih krusial lagi, perdamaian itu sendiri lahir dari kekompakan para pemimpinnya. Prabowo mengingatkan agar kita tidak sampai terperosok dalam jurang pertikaian yang hanya akan menyengsarakan rakyat.
NU, Cermin Persatuan Bangsa di Mata Prabowo
Dalam pidatonya yang penuh bobot, Prabowo tidak ragu memberikan pujian setinggi langit kepada Nahdlatul Ulama (NU). Ia melihat NU sebagai contoh nyata bagaimana sebuah organisasi besar mampu menjaga kerukunan di tengah perbedaan latar belakang dan pandangan yang sangat beragam. Keberhasilan NU dalam membuktikan bahwa persatuan adalah pilar utama untuk menjaga stabilitas nasional benar-benar menginspirasinya.
“NU selalu memberi contoh, NU selalu berusaha untuk menjaga persatuan,” ungkap Prabowo dengan nada bangga. “Dan memang itulah pelajaran sejarah, tidak ada bangsa yang kuat, tidak ada bangsa yang bisa maju kalau pemimpin-pemimpinnya tidak rukun,” tegasnya di hadapan ribuan jemaah yang hadir, menyiratkan betapa pentingnya elemen persatuan ini.
Demokrasi Sehat: Debat Boleh, Dendam Terlarang!
Prabowo memahami betul bahwa dalam denyut demokrasi, persaingan ide dan perbedaan pendapat adalah hal yang wajar terjadi. Namun, ia memberikan batasan yang jelas. Perdebatan tidak boleh sampai merusak hubungan personal dan menumbuhkan kebencian. Para pemimpin, baik di ranah politik, ekonomi, maupun intelektual, dituntut untuk mampu melepaskan ego demi kepentingan yang lebih besar, yaitu kesejahteraan rakyat.
“Boleh kita bertanding, boleh kita bersaing, boleh kita berbeda, boleh kita berdebat, tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia, semua pemimpin masyarakat, harus rukun, harus menjaga persatuan dan kesatuan,” tambahnya dengan penekanan yang kuat pada setiap kata. Ini adalah seruan agar semangat kompetisi tidak lantas memecah belah persatuan.
Warisan Leluhur: Filosofi 'Mikul Dhuwur Mendhem Jero'
Presiden yang digadang-gadang akan memimpin Indonesia ke depan ini, mengingatkan kembali sebuah nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur dan kiai bangsa. Ia merujuk pada filosofi ‘mikul dhuwur mendhem jero’. Makna mendalamnya adalah seorang pemimpin sejati harus mampu menjunjung tinggi segala kebaikan dan mengubur dalam-dalam segala keburukan, perselisihan, atau kesalahan masa lalu. Tidak ada tempat bagi pemimpin yang hanya pandai mencari-cari cela lawan demi menjatuhkan mereka.