Pengamat Soroti Dampak Wacana Prabowo Dua Periode terhadap Soliditas Kabinet

news.fin.co.id - 09/02/2026, 19:44 WIB

Pengamat Soroti Dampak Wacana Prabowo Dua Periode terhadap Soliditas Kabinet

Presiden Prabowo Subianto

fin.co.id - Isu peluang Prabowo Subianto melanjutkan kepemimpinan hingga dua periode dinilai berpotensi memunculkan konsekuensi politik di lingkaran pemerintahan. Dukungan terbuka dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN), yang tidak dibantah oleh Partai Gerindra, dipandang sebagai tanda awal pergeseran dinamika kekuasaan.

Pengamat Politik Arifki Chaniago menyebut, dari sisi konstitusi, wacana dua periode tidak menyalahi aturan. Namun, momentum kemunculan dukungan tersebut dianggap terlalu dini dan bisa memengaruhi cara elite memetakan arah kekuasaan, termasuk di dalam kabinet.

“Sinyal politik seperti ini biasanya langsung direspons oleh aktor-aktor di dalam pemerintahan. Bukan dalam bentuk pernyataan terbuka, tetapi melalui penyesuaian langkah,” ujar Arifki dalam keterangan, Senin, 9 Februari 2026.

Ia menilai, sikap Gerindra yang tidak menutup kemungkinan pembahasan dua periode dapat ditafsirkan sebagai indikasi terbukanya arah politik jangka menengah. Dalam situasi semacam itu, perhatian elite berpotensi tidak lagi sepenuhnya tertuju pada penguatan program kerja, melainkan mulai bergerak pada kalkulasi posisi dan peran politik ke depan.

Advertisement

Menurut Arifki, dukungan PKB dan PAN bukan dimaksudkan untuk mengubah konfigurasi kepemimpinan nasional 2029. Sebaliknya, langkah tersebut mempertegas Prabowo sebagai figur sentral sekaligus menggeser dinamika ke ranah internal koalisi. Tidak munculnya nama Gibran Rakabuming Raka dalam pernyataan dukungan juga dinilai sebagai tanda bahwa pembahasan politik belum mencapai tahap final.

Dalam konteks tersebut, Arifki melihat peluang kabinet memasuki fase yang lebih sarat kepentingan politik. Ketika arah kekuasaan mulai terbaca, kebijakan dan aktivitas kementerian kerap ditafsirkan dalam bingkai politik yang lebih luas. Program pemerintahan tetap berjalan, tetapi mudah dikaitkan dengan agenda jangka menengah.

“Risikonya bukan pada berhentinya kerja pemerintahan, melainkan pada terbelahnya fokus. Program bisa tetap dijalankan, tetapi orientasinya tidak lagi sepenuhnya teknokratis,” kata Arifki.

Ia menambahkan, dinamika seperti ini lazim dalam sistem presidensial multipartai. Yang membedakan, menurutnya, adalah cepatnya wacana elektoral mencuat. Ketika pembicaraan Pilpres muncul lebih awal, ruang netral kabinet dinilai semakin menyempit.

Situasi tersebut juga berpotensi memengaruhi sikap partai-partai lain yang belum menyatakan posisi. Ketidakjelasan arah politik membuka ruang manuver baru sekaligus meningkatkan intensitas komunikasi politik di luar jalur formal pemerintahan.

“Dampak nyata dari wacana ini sangat bergantung pada bagaimana elite mengelola sinyal tersebut. Selama tidak diikuti langkah-langkah formal dan keputusan politik yang mengikat, dinamika ini masih berada pada tahap awal,” kata Arifki.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa semakin lama isu dua periode dibiarkan berkembang tanpa penegasan sikap, semakin besar kemungkinan perhatian elite tersedot pada kalkulasi elektoral, sementara agenda kebijakan berisiko berjalan di bawah bayang-bayang kontestasi.

“Dalam politik, sinyal sering kali lebih berpengaruh daripada keputusan resmi,” ujar Arifki.

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID