fin.co.id – Kekerasan kembali menyasar dunia pendidikan di Papua. Seorang guru bernama Frengki (55) tewas setelah diserang secara brutal di ruang guru Sekolah Yakpesmi, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Senin, 2 Februari 2026, saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung.
Insiden terjadi usai terdengar letusan senjata api dari arah belakang sekolah. Korban yang berupaya menyelamatkan diri justru dikejar oleh tiga orang bersenjata dan kemudian diserang dengan senjata tajam hingga meninggal dunia di dalam ruang guru. Para siswa yang berada di kelas langsung dievakuasi dan dipulangkan karena situasi dinilai tidak aman.
Koordinator Nasional Kawan Indonesia, Arief Darmawan mengecam keras peristiwa tersebut. Ia menyebut aksi itu sebagai serangan langsung terhadap masa depan generasi muda Papua.
“Perbuatan keji KKB ini bukan sekadar pembunuhan guru. Ini pembunuhan masa depan anak-anak Papua. Ketika sekolah dijadikan medan pembantaian, yang dibunuh bukan hanya satu nyawa, tapi harapan satu generasi,” kata Arief Darmawan dalam keterangan kepada wartawan, Selasa, 10 Februari 2026.
Menurut Arief, sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang, bukan lokasi kekerasan bersenjata yang memicu trauma berkepanjangan.
“Anak-anak seharusnya belajar membaca dan berhitung, bukan menyaksikan ketakutan dan kekerasan bersenjata. Ini trauma jangka panjang yang akan menghancurkan proses tumbuh kembang mereka,” ujarnya.
Arief juga mengingatkan bahwa kasus ini bukan yang pertama. Pada 21 Maret 2025, seorang guru perempuan, Rosalia Rerek Sogen (30), dilaporkan tewas dalam serangan bersenjata di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo. Saat itu, serangan juga menyasar tenaga pendidik dan tenaga kesehatan.
“Dulu bu guru Rosalia Rerek Sogen, kini guru Frengki. Korbannya pendidik lagi, lokasinya wilayah pendidikan. Ini menunjukkan pola teror yang berulang dan disengaja,” tegas Arief.
Ia menilai, berulangnya serangan terhadap guru menunjukkan adanya pola intimidasi sistematis yang membuat tenaga pendidik enggan bertugas di wilayah tersebut.
“Jika bu guru dan guru terus dibunuh, siapa yang mau mengajar di Yahukimo? Ini bukan kebetulan, ini strategi teror,” ujarnya.
Arief menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, kekerasan terhadap tenaga pendidikan di wilayah pegunungan Papua mencakup berbagai bentuk, mulai dari pembunuhan, penembakan, pengusiran, hingga perusakan fasilitas sekolah. Dampaknya, menurut dia, sangat luas terhadap keberlangsungan pendidikan.
“Setiap guru yang dibunuh atau dipaksa pergi berarti ribuan jam belajar hilang, sekolah ditutup, anak-anak putus sekolah. Ini efek domino yang merusak fondasi pembangunan SDM Papua,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kekerasan bersenjata terhadap sektor pendidikan hanya akan memperdalam ketertinggalan dan memperpanjang persoalan sosial di Papua.
“Bagaimana mungkin bicara Papua Emas dan keadilan pembangunan jika guru diburu dan sekolah dijadikan sasaran teror? Pembangunan generasi muda Papua bisa gagal total,” ujarnya.
Menurut Arief, tindakan tersebut justru merugikan masyarakat Papua sendiri.