Meski sempat ragu untuk melanjutkan perjalanan akibat perlakuan tersebut, Hasan tetap mengantar Nur karena merasa iba.
Ia menilai penumpangnya seorang perempuan yang bepergian sendirian pada malam hari dan tidak mengetahui arah jalan.
Setibanya di lokasi, situasi kembali memanas. Anak pelaku disebut sudah menunggu di depan rumah dan langsung menuduh Hasan bersikap tidak sopan kepada ayahnya.
“Anaknya sudah berdiri di depan rumah dengan nada kayak nantangin gitu, bilang kalau saya enggak sopan ke bapaknya. Padahal, mah saya cuma nanya alamat, bapaknya dia yang ngomel-ngomel,” tutur Hasan.
Adu mulut pun terjadi hingga anak pelaku menendang motor Hasan. Keributan berlanjut menjadi saling dorong dan pukul. Tak lama berselang, ayah dari anak tersebut datang membawa batang besi dan langsung menyerang Hasan.
“Sekali pukul pakai besi, terus warga langsung udah di situ semua. Saya luka berdarah di dahi kiri, ngucur darahnya,” ujarnya.
Usai kejadian, Hasan menjalani visum dan melapor ke Polsek Kembangan. Ia kembali dipanggil polisi pada Sabtu 7 Februari.
Namun, penyelidikan disebut menemui kendala karena terduga pelaku merupakan anggota militer.
“Di situ kepolisian bilang, 'harus ke Pomdam' (Polisi Militer Kodam),” kata Hasan.
Merasa proses hukum berjalan lambat, Hasan akhirnya membagikan kisah yang dialaminya ke media sosial dengan harapan mendapat perhatian. Upaya tersebut membuahkan hasil setelah kasusnya ramai diperbincangkan dan ia kembali dipanggil oleh pihak kepolisian. *