Fin.co.id - Puasa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang niat yang menjadi fondasi sah atau tidaknya ibadah tersebut. Mayoritas ulama sepakat bahwa tanpa niat, puasa tidak dianggap sah.
Dikutip dari berbagai literatur fikih yang juga dijelaskan dalam kajian NU Online, perbedaan redaksi dalam melafalkan niat puasa Ramadhan tidak memengaruhi substansi maknanya. Meski terdapat variasi susunan kata maupun i’rab (struktur tata bahasa Arab), inti niat tetap sama, yakni berpuasa karena Allah SWT untuk menunaikan kewajiban Ramadhan.
1. Niat Puasa Ramadhan Paling Lengkap dan Populer
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā
Arti:
“Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
2. Variasi dengan Perubahan I’rab pada Kata “Sanah”
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةَ لِلهِ تَعَالَى
Pada versi ini, kata sanata dibaca fathah karena diposisikan sebagai zharaf (keterangan waktu). Secara gramatikal memang berbeda, namun maknanya tetap sama dan tidak mengubah keabsahan niat.
3. “Ramadhāni” Berakhiran Kasrah
Arab: