fin.co.id - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan harapan bahwa perundingan perdamaian yang dimediasi AS pada pekan depan di Jenewa akan serius dan substantif.
Namun, ia juga menyuarakan kekhawatiran bahwa Ukraina terlalu sering diminta untuk membuat konsesi dalam negosiasi tersebut.
“Kami benar-benar berharap bahwa pertemuan trilateral minggu depan akan serius, substantif, dan bermanfaat bagi kita semua, tetapi jujur saja, terkadang terasa seperti kedua pihak membicarakan hal-hal yang sama sekali berbeda,” kata Zelenskyy dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich, Sabtu, 14 Februari 2026.
Pemimpin Ukraina itu mengaku merasakan sedikit tekanan dari Presiden AS Donald Trump, yang kemarin mengatakan Zelenskyy tidak boleh melewatkan kesempatan untuk segera berdamai.
“Amerika sering kembali ke topik konsesi dan terlalu sering konsesi tersebut hanya dibahas dalam konteks Ukraina, bukan Rusia,” kata Zelenskyy.
Namun, Zelenskyy menambahkan, bahwa ia berharap AS akan tetap terlibat dalam negosiasi, dan akan ada kesempatan bagi Eropa, yang menurutnya saat ini terpinggirkan, untuk memainkan peran yang lebih besar.
Zelenskyy sebelumnya telah menyatakan kekhawatiran bahwa pemilihan paruh waktu Kongres AS dapat memfokuskan pemerintahan Trump pada isu-isu politik domestik setelah musim panas.
Ukraina dan Rusia telah terlibat dalam dua putaran pembicaraan baru-baru ini yang dimediasi oleh Washington di Abu Dhabi, yang digambarkan oleh kedua pihak sebagai konstruktif tetapi tidak mencapai terobosan besar apa pun.
Rusia mengatakan delegasinya ke Jenewa akan dipimpin oleh penasihat Putin, Vladimir Medinsky, sebuah perubahan dari Abu Dhabi di mana tim Rusia dipimpin oleh kepala intelijen militer Igor Kostyukov.
Sumber-sumber Ukraina sebelumnya telah mengkritik penanganan pembicaraan oleh Medinsky, menuduhnya memberikan pelajaran sejarah kepada tim Ukraina alih-alih terlibat dalam negosiasi substantif.