Heboh Hilal Alaska! Muhammadiyah, NU, dan BRIN Buka Suara, Fix Puasa Tanggal Sini?

news.fin.co.id - 18/02/2026, 18:10 WIB

Heboh Hilal Alaska! Muhammadiyah, NU, dan BRIN Buka Suara, Fix Puasa Tanggal Sini?

Geger wacana 1 Ramadan 2026 pakai standar hilal terlihat di Alaska! Cek penjelasan MUI, PBNU, dan Muhammadiyah biar nggak salah paham soal puasa.

fin.co.id - Waduh, warga internet kembali ramai! Perdebatan mengenai kapan tepatnya 1 Ramadan 2026 dimulai kembali memanas di media sosial. Kali ini, pemicunya bukan soal beda hari biasa, tapi muncul wacana ekstrem soal standar global penetapan awal bulan hijriah. Bayangkan saja, ada pandangan yang menyebut awal Ramadan bisa ditetapkan hanya karena hilal sudah terlihat di wilayah paling barat bumi, seperti Alaska! Sontak saja, isu "Hilal Alaska" ini dikaitkan dengan metode hisab yang selama ini Muhammadiyah gunakan.

Apakah kita harus mengikuti hasil teropong di belahan dunia lain yang jaraknya ribuan kilometer dari Indonesia? Kabar ini tentu bikin Anda bingung, apalagi bagi yang sudah tidak sabar menyambut bulan suci. Biar tidak gagal paham, para tokoh dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), PBNU, BRIN, hingga pimpinan pusat Muhammadiyah langsung turun tangan memberikan penjelasan yang super detail.

MUI Tegaskan Perbedaan Geografis Itu Nyata

Menanggapi isu yang tengah viral ini, Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis memberikan pandangan yang sangat menenangkan. Beliau mengingatkan kita semua bahwa hadis Nabi Muhammad SAW mengenai perintah berpuasa karena melihat hilal harus dipahami secara utuh. Menurut beliau, kita tidak bisa hanya mengambil sisi tekstualnya saja tanpa melihat konteks geografis di mana umat Islam tinggal.

Advertisement

Dalam dunia fikih, ada istilah keren bernama "ikhtilaf matla’" atau perbedaan tempat terbitnya hilal. KH Cholil Nafis menjelaskan bahwa mayoritas ulama, terutama dari mazhab Syafi’i yang menjadi pegangan sebagian besar umat Islam di Indonesia, mengakui bahwa beda wilayah berarti beda pula waktu awal bulannya. Jadi, kalau ada orang di Alaska melihat bulan sabit, itu tidak otomatis memaksa Anda yang ada di Jakarta untuk langsung berpuasa besok pagi.

“Dalam fikih, dikenal konsep ikhtilaf matla’, yakni perbedaan tempat terbitnya hilal. Jika hilal terlihat di satu kawasan yang sangat jauh secara geografis, seperti Alaska, hal itu tidak otomatis mengikat umat Islam di Indonesia,” ujar Cholil Nafis di Jakarta, Rabu (18/2/2026).

PBNU: Tradisi Rukyat Itu Soal Lokalitas dan Syiar

Setali tiga uang dengan MUI, Pengurus Lembaga Falakiyah PBNU, Ahmad Izzuddin, juga menekankan pentingnya kondisi faktual di tempat kita berpijak. Beliau mengingatkan poin penting dalam hadis Nabi: jika hilal tidak terlihat, maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari (istikmal). Ini artinya, syariat memberikan panduan berdasarkan apa yang terlihat di depan mata kita, bukan berdasarkan laporan dari tempat yang matla’-nya sangat jauh.

Bagi teman-teman dari Nahdlatul Ulama (NU), rukyatul hilal itu bukan sekadar urusan teknis teleskop atau hitungan angka saja. Ini adalah soal syiar agama dan kesaksian kolektif umat Islam secara langsung. Jadi, prinsip lokalitas tetap menjadi prioritas utama demi menjaga kesinambungan ibadah yang sudah berjalan turun-temurun di tanah air.

Sudut Pandang BRIN: Sains vs Ijtihad Fikih

Lalu, apa kata ilmuwan? Pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memberikan penjelasan dari sisi astronomi yang sangat masuk akal. Secara ilmiah, memang sangat mungkin hilal terlihat lebih awal di ujung barat bumi seperti Alaska. Hal ini terjadi karena faktor perbedaan waktu matahari terbenam dan posisi bulan yang lebih tinggi di sana.

Namun, Thomas mengingatkan bahwa visibilitas hilal sangat tergantung pada banyak hal, mulai dari tinggi bulan, elongasi, hingga kondisi atmosfer. Hilal mungkin sudah "layak lihat" di Alaska, tapi di Asia Tenggara posisinya bisa jadi masih sangat rendah di bawah ufuk. Di sinilah pentingnya kriteria imkan rukyat yang disepakati oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) sebagai standar rasional.

Advertisement

“Secara sains, hilal bisa saja memenuhi kriteria visibilitas di Alaska, tetapi belum tentu di Asia Tenggara. Sains memberi data, syariat memberi kerangka normatifnya,” jelas Thomas Djamaluddin.

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Pemimpin Redaksi FIN.CO.ID