Fin.co.id - Sahur sering kali dianggap hanya sebagai momen mengisi "bahan bakar" agar tubuh tidak loyo saat berpuasa.
Padahal, sahur adalah pembeda identitas yang paling mencolok antara puasa umat Islam dengan puasa umat lainnya.
Di balik sepiring hidangan dini hari, terdapat rukun ibadah yang menentukan sah atau tidaknya puasa: niat.
Dalam mazhab Syafii, niat puasa wajib dilakukan pada malam hari (tabyit) sebelum fajar menyingsing.
Tanpa niat yang tulus karena Allah SWT, menahan lapar dan dahaga hanya akan menjadi aktivitas diet tanpa nilai pahala.
Karena itu, memantapkan niat saat sahur adalah langkah krusial untuk memastikan ibadah kita diterima secara sempurna.
"Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan." — HR. Bukhari & Muslim
Bacaan Niat Sahur Ramadan: Lafal Arab, Latin, dan Maknanya
Agar ibadah puasa lebih terarah dan mantap secara spiritual, berikut adalah lafal niat yang dibaca setiap malam setelah Maghrib hingga waktu Imsak tiba:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i fardhi syahri ramadhana hadzihis sanati lillahi ta'ala.
Artinya: "Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta'ala."
Selain memberikan energi fisik, aktivitas sahur juga menyimpan dimensi spiritual yang luar biasa:
1. Mendapatkan Selawat dari Allah dan Malaikat
Saat seseorang bangun untuk menyantap sahur, Allah SWT dan para malaikat memberikan kemuliaan berupa selawat dan rahmat. Di saat mayoritas manusia terlelap, mereka yang terjaga untuk sahur dipandang istimewa di hadapan penghuni langit.