fin.co.id - Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi 28 Februari 2026 memicu guncangan politik hebat di Timur Tengah. Kematian sosok yang berkuasa selama hampir 37 tahun ini meninggalkan lubang besar dalam struktur otoritas tertinggi Republik Islam Iran. Kini, dunia menyoroti siapa yang akan mengisi takhta di Teheran.
Presiden AS Donald Trump dan media pemerintah Iran telah mengonfirmasi kepergian ulama berusia 86 tahun tersebut pada Minggu 1 Maret 2026. Iran langsung menetapkan 40 hari masa berkabung resmi dan tujuh hari libur nasional untuk menghormati sang pemimpin. Di tengah suasana duka yang mendalam, Majelis Pakar Iran kini memikul beban berat untuk menunjuk penerus yang mampu menjaga stabilitas negara.
Mekanisme Suksesi dan Kode dari Khamenei
Berdasarkan konstitusi Iran, Pemimpin Tertinggi haruslah seorang ulama dan cendekiawan Syiah senior. Penunjukan posisi ini berada di tangan Majelis Pakar, sebuah komite berisi para ulama terpilih. Namun, sebelum ajalnya tiba, Khamenei rupanya telah menyiapkan skenario suksesi.
Pada Juni tahun lalu, saat ketegangan militer 12 hari dengan Israel memuncak, Khamenei sempat membocorkan tiga nama kandidat yang menurutnya layak memimpin. Menariknya, Donald Trump pun mengklaim mengetahui sosok yang akan naik takhta. "Saya tahu persis siapa, tetapi saya tidak bisa memberi tahu Anda. Ada beberapa kandidat yang baik," ujar Trump mengutip laporan CNN.
Berikut adalah profil empat tokoh yang disebut-sebut memiliki peluang besar menjadi Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya:
1. Alireza Arafi: Sang Teknokrat Seminari
Alireza Arafi (67) merupakan salah satu rekan terdekat mendiang Khamenei. Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pakar, posisi yang sangat strategis dalam proses penentuan pemimpin baru. Kariernya sangat mentereng di lembaga-lembaga kunci Iran, termasuk keanggotaannya di Dewan Wali—badan yang berwenang menyeleksi kandidat pemilu dan meninjau undang-undang.
Sebagai pemimpin sistem seminari di seluruh Iran, Arafi memiliki reputasi keagamaan yang sangat kuat. Meskipun demikian, para analis menilai Arafi bukan merupakan kekuatan politik utama. Ia juga tidak memiliki kedekatan khusus dengan lembaga keamanan atau militer, yang mungkin menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan stabilitas nasional pasca-serangan.
2. Mohammad Mehdi Mirbagheri: Tokoh Garis Keras Anti-Barat
Jika Majelis Pakar menginginkan sosok yang lebih radikal, Mohammad Mehdi Mirbagheri (60-an) adalah kandidat utamanya. Ia mewakili faksi paling konservatif dalam kalangan ulama Iran. Mirbagheri memimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Islam di kota suci Qom dan terkenal dengan pandangannya yang sangat memusuhi Barat.
Laporan IranWire menyebutkan bahwa Mirbagheri memandang konflik antara "orang beriman" dan "orang kafir" sebagai sesuatu yang tidak terelakkan. Pilihan terhadap Mirbagheri akan menandakan bahwa Iran akan mengambil jalur yang jauh lebih konfrontatif terhadap Washington dan Tel Aviv di masa depan.
3. Hassan Khomeini: Cucu Sang Pendiri yang Moderat
Hassan Khomeini (50-an) membawa nama besar kakeknya, pendiri Republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia merupakan penjaga mausoleum kakeknya dan memiliki kredibilitas revolusioner yang tak tertandingi secara silsilah. Namanya sempat muncul dalam daftar kandidat yang disukai oleh Khamenei pada Juni lalu.