fin.co.id – Kabar duka yang mendalam menyelimuti lingkungan internal kekuasaan Iran. Tak hanya menyasar sang Pemimpin Tertinggi, serangan udara besar-besaran yang dilancarkan militer Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu malam dilaporkan turut merenggut nyawa anggota keluarga inti Ayatollah Ali Khamenei. Kantor berita Iran, Fars, secara resmi mengonfirmasi bahwa putri, menantu, hingga cucu sang pemimpin revolusioner tersebut telah gugur dalam insiden yang mereka sebut sebagai "kemartiran."
Laporan dari AFP pada Minggu, 1 Maret 2026, menyebutkan bahwa serangan mendadak itu menghancurkan kompleks kediaman Khamenei yang terletak di jantung kota Teheran. Serangan yang terkoordinasi rapi tersebut melibatkan setidaknya 30 bom yang dijatuhkan tepat di area pemukiman yang selama ini menjadi pusat komando spiritual dan politik Iran.
Operasi Militer yang Menghancurkan
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam sebuah pernyataan televisi menegaskan bahwa kompleks tersebut hancur total. Netanyahu menyebut Khamenei sebagai diktator kejam yang telah menebar teror global selama lebih dari tiga dekade. "Rencana penghancuran Israel kini sudah tidak ada lagi, dan banyak tanda kuat menunjukkan bahwa diktator ini sudah tidak hidup lagi," tegas Netanyahu.
Nada serupa datang dari Presiden AS Donald Trump melalui platform Social Truth. Trump menyatakan bahwa kematian Khamenei adalah akhir dari babak panjang salah satu sosok yang ia sebut paling berbahaya dalam sejarah. Namun, tewasnya para cucu dan anggota keluarga lainnya memberikan gambaran betapa dahsyatnya daya hancur serangan gabungan ini.
Teheran Masih Bungkam
Meskipun kantor berita Fars telah mengonfirmasi kematian keluarga sang pemimpin, pemerintah pusat Iran di Teheran secara resmi belum memberikan keterangan mendetail mengenai status terakhir Ali Khamenei sendiri. Sejak serangan udara tersebut berhenti, keberadaan dan kondisi fisik sang pemimpin tertinggi masih diselimuti misteri, meskipun bukti-bukti di lapangan menunjukkan kehancuran total pada kompleks kediamannya.
Dunia internasional kini menanti reaksi balasan dari Garda Revolusi Iran atas hilangnya garis keturunan sang pemimpin tertinggi. Tewasnya cucu-cucu Khamenei diprediksi akan menyulut kemarahan yang jauh lebih emosional di kalangan loyalis rezim, yang berpotensi memicu eskalasi konflik ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.