Fin.co.id - Sebelum mengembuskan napas terakhir, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pernah menyampaikan sebuah pesan kuat: “Bunuh Aku, Perang Tak Akan Berakhir.”
Tak hanya itu, Ali Khamenei juga pernah menyampaikan narasi yang ditujukan kepada Amerika dan Israel:
"Saya sudah tua, tubuh saya lemah. Namun, pertarungan ini bukan milik saya — ini milik pemuda Iran. Anda tidak melawan seorang pria, tetapi sebuah bangsa yang mempertahankan martabatnya."
Kutipan itu kini bergema lebih keras dari sebelumnya. Ali Khamenei wafat pada usia 86 tahun setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang diklaim sebagai bagian dari operasi “Epic Fury”.
Serangan tersebut tidak hanya menghancurkan pusat infrastruktur utama dan jantung kepemimpinan di Teheran, tetapi juga menjadi titik balik paling traumatis bagi peta politik Timur Tengah saat ini.
Pemerintah Iran secara resmi menetapkan 40 hari masa berkabung nasional. Seluruh negeri diselimuti duka mendalam dengan lautan manusia yang membanjiri jalanan, mulai dari Isfahan hingga Teheran sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Prosesi pemakaman menjadi simbol perpisahan bagi sosok yang selama puluhan tahun memegang kendali arah politik Iran dan menjadi simbol perlawanan.
Keputusan Terakhir Sang Pemimpin
Di balik kematiannya, terungkap fakta mengejutkan. Dr. Abdul Majid Hakeem Ilahi, perwakilan resmi Ayatollah Khamenei, menyebut sang pemimpin sebenarnya telah menerima berbagai tawaran evakuasi sebelum serangan mematikan itu terjadi.
Namun dengan tegas Khamenei menolak. Ia tidak memilih bersembunyi di bunker atau fasilitas bawah tanah.
Ia memilih tetap berada di rumahnya, di tengah rakyatnya, hingga ajal menjemput.
“Keputusan ini bukanlah bentuk kesombongan, melainkan manifestasi keberanian yang akan dicatat oleh sejarah,” kata Abdul Majid.
Ayatollah Khamenei disebut meninggal dunia dalam posisi berdiri. Menurutnya, hal ini menjadi pesan simbolis bahwa kepemimpinannya tidak akan goyah meski di bawah ancaman serangan udara yang paling presisi sekalipun.
Wawancara 60 Minutes Hingga Isu Sunni-Syiah
Jauh sebelum tragedi ini, Ali Khamenei telah menjadi sosok yang kontroversial sekaligus dihormati.