Alasan UEA dan Qatar Desak Donald Trump Stop Operasi Militer ke Iran

news.fin.co.id - 03/03/2026, 20:42 WIB

Alasan UEA dan Qatar Desak Donald Trump Stop Operasi Militer ke Iran

Photo file: Korea Utara pada Senin (6/1/2025) meluncurkan rudal balistik pertama di tahun 2025 ke arah Laut Timur, yang juga dikenal sebagai Laut Jepang, hanya dua pekan menjelang pelantikan Presiden AS terpilih Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/

fin.co.id - Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar dilaporkan tengah bergerak cepat di balik layar. Kedua negara Teluk itu disebut-sebut melobi sekutu mereka untuk meyakinkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, agar membatasi durasi operasi militer terhadap Iran.

Laporan ini pertama kali diungkap Bloomberg pada Senin dan dikutip oleh Anadolu Agency. Menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, UEA dan Qatar berupaya membangun koalisi luas guna mendorong penyelesaian diplomatik yang cepat.

Kekhawatiran utama mereka bukan hanya eskalasi militer, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap stabilitas kawasan dan harga energi global.

Advertisement

Khwatir Jalur Pelayaran dan Harga Gas Terganggu

Dalam penilaian internal Qatar, disebutkan bahwa pasar gas alam bisa bereaksi signifikan apabila jalur pelayaran di kawasan Teluk terus terganggu hingga pertengahan pekan ini. Teluk Persia merupakan jalur vital distribusi LNG dunia, termasuk dari Qatar yang menjadi salah satu eksportir terbesar.

Ketidakpastian keamanan laut dinilai berpotensi memicu lonjakan harga gas alam dan minyak mentah secara global. Negara-negara konsumen di Eropa dan Asia pun berisiko terkena imbasnya.

Sementara itu, Trump sebelumnya menyebut kampanye militer terhadap Iran diperkirakan berlangsung selama empat hingga lima pekan. Namun ia membuka kemungkinan perpanjangan bila diperlukan. Ia juga mengklaim operasi berjalan “lebih cepat dari jadwal”, tanpa menjelaskan detail lebih lanjut.

UEA dan Qatar Perkuat Pertahanan Udara

Di tengah situasi memanas, UEA dan Qatar juga memperkuat pertahanan udara mereka. UEA dilaporkan meminta bantuan sekutu untuk sistem pertahanan udara jarak menengah.

Sementara Qatar secara khusus mencari dukungan untuk menghadapi ancaman drone. Laporan Bloomberg menyebut Qatar menghadapi kekurangan kritis rudal pencegat Patriot, dengan analisis internal menunjukkan stok hanya cukup untuk empat hari pada tingkat penggunaan saat ini.

Namun klaim ini kemudian dibantah oleh pemerintah Qatar.

Qatar pada Senin sebelumnya mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat tujuh rudal balistik dan lima drone, serta menembak jatuh dua pesawat tempur Su-24 yang diarahkan ke wilayahnya.

Advertisement

Serangan Iran ke Negara Teluk

Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat sebagai balasan atas kampanye gabungan AS-Israel. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersama anggota keluarganya.

Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Redaktur Pelaksana FIN.CO.ID