Krisis ini ternyata tidak hanya melanda Doha.
Dampak dari serangan militer tersebut menyebar luas bak efek domino ke negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah.
Mugiyanto menegaskan bahwa laporan yang diterima kementerian menunjukkan puluhan hingga ratusan WNI lainnya mengalami nasib serupa di berbagai titik transit utama dunia.
Situasi di lapangan memperlihatkan bahwa hampir seluruh akses penerbangan di kawasan tersebut terkunci rapat.
Para WNI yang sedang dalam perjalanan atau berniat melakukan transit kini tertahan di berbagai negara.
"Bukan cuma di Doha," tegas Mugiyanto.
"Ada puluhan, bahkan mungkin ratusan WNI kita yang juga terdampar di Uni Emirat Arab (Dubai), Kuwait, Arab Saudi, hingga Bahrain."
"Kita semua tidak bisa terbang, semua perjalanan terkunci," tambahnya.
Kondisi ini menimbulkan kesulitan logistik yang serius.
Lebih dari itu, krisis ini memberikan beban psikologis yang berat bagi para WNI.
Mugiyanto menyoroti bahwa rasa aman kini menjadi barang mewah bagi mereka yang berada di wilayah konflik maupun yang tertahan di bandara transit.
Otoritas setempat di beberapa lokasi bahkan telah memberlakukan pembatasan gerak yang sangat ketat demi alasan keamanan.
"Kita punya persoalan dengan rasa aman," jelas Mugiyanto.
"Bahkan di tempat kami berada sekarang, ada instruksi tegas untuk tidak keluar rumah."
"Semuanya terdampak secara langsung oleh situasi militer ini," simpulnya.