“Kamu mau saya nikahin dia kah?”
13 Jam Penuh Ketegangan dan Tekanan
Ia mengungkapkan malam itu dipenuhi tekanan verbal. Bahkan disebut ada tindakan fisik. Ketegangan berlangsung berjam-jam.
Meski demikian, ia tetap pada pendiriannya: menolak.
Ia mengatakan peristiwa tersebut tidak berlanjut sesuai keinginan pihak lain karena ia terus bertahan pada penolakannya. Namun cerita tak berhenti di situ.
Menurut pengakuannya, ia kemudian mendengar cerita dari sejumlah perempuan lain. Ia menyebut ada pola kejadian yang mirip. Alur yang hampir serupa. Tekanan yang sejenis.
Ia mengatakan banyak dari mereka mengalami trauma mendalam.
“Tidak ada yang tidak trauma,” ujarnya lirih.
Meski begitu, seluruh pernyataan ini masih berupa klaim sepihak dan belum ada tanggapan resmi dari pihak yang disebutkan. Prinsip praduga tak bersalah tetap berlaku.
Ancaman, Ketakutan dan Tekanan untuk Diam
Perempuan tersebut mengaku tidak hanya mengalami ketakutan saat kejadian berlangsung, tetapi juga setelahnya.
Ia merasa mendapat peringatan agar tidak menceritakan apa pun kepada siapa pun, termasuk keluarga terdekat.
Ancaman itu, katanya, disampaikan sebelum ia meninggalkan hotel malam itu.
Namun tekanan batin yang ia rasakan justru semakin berat. Ia menggambarkan perasaan seperti dihantui “kegilaan” jika terus memendam cerita itu sendirian.
Akhirnya ia mencari seseorang yang bisa dipercaya. Perjalanannya membawanya kepada Uswatun Hasanah alias Badai NTB, seorang aktivis perempuan di Nusa Tenggara Barat. Di sanalah ia pertama kali membuka seluruh cerita.