fin.co.id - Fenomena astronomi langka berupa Gerhana Bulan Total siap menghiasi langit Indonesia pada malam ini, Selasa (3/3). Fenomena yang sering disebut sebagai Blood Moon ini akan mengubah warna satelit alami bumi tersebut menjadi kemerahan dalam durasi yang cukup lama.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi seluruh proses gerhana, mulai dari fase awal hingga berakhir, akan memakan waktu total selama 5 jam 41 menit 51 detik. Durasi yang cukup panjang ini memberikan kesempatan luas bagi masyarakat untuk menyaksikan perubahan visual Bulan secara bertahap.
Untuk durasi parsialitas atau saat Bulan mulai tertutup bayangan sebagian, fenomena ini akan berlangsung selama 3 jam 27 menit 47 detik. Sementara itu, fase yang paling dinanti yakni Totalitas—ketika Bulan benar-benar masuk ke dalam bayangan umbra Bumi—akan terjadi selama 59 menit 27 detik.
Jadwal Puncak Gerhana di Berbagai Wilayah
Masyarakat dapat mulai mengamati proses Gerhana Bulan Total sejak pukul 18.03 WIB. Namun, momen krusial atau puncak gerhana akan berlangsung pada waktu yang berbeda di setiap zona waktu Indonesia:
WIB: 18.33.39 WIB
WITA: 19.33.39 WITA
WIT: 20.33.39 WIT
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan hasil dari dinamisnya posisi Matahari, Bumi, dan Bulan. Gerhana ini hanya terjadi saat fase bulan purnama ketika ketiga benda langit tersebut berada dalam satu garis lurus atau sejajar.
"Kondisi ini membuat Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti atau umbra Bumi. Jika langit cerah, masyarakat akan melihat pemandangan indah berupa Bulan yang berwarna merah saat puncak gerhana," ujar Nelly dalam keterangan resminya.
Mengapa Bulan Berwarna Merah?
Warna merah yang muncul pada permukaan Bulan bukan tanpa alasan ilmiah. Fenomena ini terjadi akibat hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi. Saat gerhana, atmosfer Bumi menyerap cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru, namun membiarkan cahaya dengan panjang gelombang panjang seperti merah tetap melintas hingga mencapai permukaan Bulan.
Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu, Fachri Radjab, menambahkan bahwa wilayah Indonesia Timur memiliki keuntungan lebih. Warga di sana memiliki visibilitas lebih baik karena dapat menyaksikan fase awal gerhana tepat saat Bulan terbit. Sebaliknya, warga di Indonesia Barat kemungkinan besar akan melihat gerhana yang sudah dalam kondisi totalitas sesaat setelah Bulan muncul di ufuk.