Konsep ini pada dasarnya adalah perang gerilya modern yang diperkuat teknologi tinggi. IRGC yang kini terdiri dari 31 unit mandiri akan bergerak seperti potongan puzzle yang saling melengkapi.
Beberapa elemen utama strategi ini meliputi:
-
Desentralisasi Komando
Tidak ada lagi ketergantungan pada satu pusat kendali. Jika satu wilayah lumpuh, wilayah lain tetap aktif.
-
Pemanfaatan Medan
Pegunungan terjal dan gurun luas Iran dijadikan zona penyergapan. Model ini mengingatkan pada perang gerilya klasik seperti di Vietnam dan Afghanistan yang membuat pasukan asing kesulitan.
-
Serangan Multi-Domain
Pasukan darat, laut, dan udara IRGC bergerak serentak. Kapal cepat berkerumun di sekitar Selat Hormuz, sistem peperangan elektronik membutakan radar lawan, dan drone diluncurkan tanpa menunggu instruksi pusat.
-
Latihan Smart Control
Strategi ini sebelumnya diuji dalam latihan militer “Smart Control” pada Februari lalu. Dalam simulasi tersebut, komando terdesentralisasi dinilai berhasil menjaga koordinasi meski komunikasi pusat terganggu.
Saat ini, sekitar 190.000 pasukan IRGC ditambah pasukan cadangan telah disebar secara strategis di berbagai provinsi.
Risiko Besar bagi AS dan Israel
Dengan sistem baru ini, ancaman bagi AS dan Israel menjadi jauh lebih kompleks. Serangan tidak lagi terpusat, melainkan tersebar dan sulit diprediksi.
Konflik yang dimulai Sabtu (28/2/2026) setelah serangan mendadak AS dan Israel ke sejumlah kota Iran kini telah melebar. Iran membalas dengan menargetkan kota-kota penting di Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Beberapa negara yang menjadi lokasi pangkalan AS seperti Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait dilaporkan turut menjadi sasaran rudal Iran.
Dampaknya bukan hanya militer, tetapi juga ekonomi global. Jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat, distribusi minyak dunia bisa terganggu. Harga energi berpotensi melonjak tajam.
Strategi Melelahkan Lawan
Tujuan utama Decentralized Mosaic Defence bukan kemenangan cepat. Sebaliknya, strategi ini dirancang untuk melelahkan musuh melalui serangan kecil yang berkelanjutan.
Alih-alih pertempuran besar frontal, Iran memilih perang jangka panjang yang menguras logistik dan moral lawan. Dengan wilayah geografis yang luas dan medan sulit, invasi darat ke Iran diperkirakan akan menjadi tantangan berat.
Namun risiko eskalasi juga meningkat. Serangan kecil yang terus-menerus dapat memicu balasan besar. Dunia kini mengawasi apakah konflik ini akan berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Babak Baru Konflik Timur Tengah
Perubahan strategi ini menandai babak baru dalam konflik Iran versus AS dan Israel. Dengan sistem pertahanan berbasis mosaik, Iran berupaya memastikan bahwa negaranya tidak lumpuh meski pusat komando diserang.