Iran melalui utusannya di PBB membantah menargetkan fasilitas sipil. Utusan Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, mengatakan bahwa serangan hanya menyasar target militer.
“Kami hanya menargetkan sasaran militer dari pasukan musuh. Kami tidak menargetkan warga sipil maupun kepentingan negara-negara tetangga,” ujarnya, dikutip Al Jazeera.
Serangan Meluas ke Arab Saudi dan Kuwait
Gelombang serangan Iran juga merembet ke negara Teluk lainnya. Di Arab Saudi, dua drone bersenjata menargetkan kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco. Serangan tersebut memicu kebakaran kecil dan memaksa penghentian sebagian operasional kilang.
Di Kuwait, pencegatan drone menyebabkan puing-puing jatuh di area kilang Mina Al Ahmadi, melukai dua pekerja. Kementerian Kesehatan Kuwait mengonfirmasi sedikitnya 19 orang terluka akibat rangkaian serangan udara.
Situasi semakin kacau ketika terjadi insiden salah tembak yang melibatkan militer Amerika Serikat. Tiga jet tempur F-15E Strike Eagle milik AS dilaporkan hancur setelah secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait. Untungnya, Komando Pusat AS memastikan keenam awak berhasil melontarkan diri dengan selamat.
Korban Jiwa dan Dampak Regional
Di wilayah laut Bahrain, puing-puing rudal yang dicegat menghantam kapal komersial di kota pelabuhan Salman, memicu kebakaran fatal. Insiden ini menewaskan satu pekerja migran asal Asia dan melukai dua lainnya secara serius.
Secara keseluruhan, rangkaian serangan Iran di kawasan Teluk telah menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai lebih dari 100 penduduk.
Kawasan Teluk yang selama ini menjadi pusat energi global kini berada dalam ketidakpastian besar. Gangguan pada LNG Qatar, minyak Saudi, dan infrastruktur Kuwait berpotensi memperpanjang volatilitas harga energi dunia.
Eskalasi yang Mengkhawatirkan
Serangan udara langsung menggunakan jet tempur menandai fase baru dalam konflik regional ini. Jika sebelumnya Iran lebih banyak mengandalkan serangan jarak jauh melalui drone dan misil, kini penggunaan pesawat pengebom menunjukkan eskalasi yang lebih berani. (*)