AS Minta NATO Serang Iran, Eropa Menolak! Spanyol, Inggris, Turki Tolak Pangkalan, Trump Murka!

news.fin.co.id - 04/03/2026, 19:18 WIB

AS Minta NATO Serang Iran, Eropa Menolak! Spanyol, Inggris, Turki Tolak Pangkalan, Trump Murka!

Trump, Image: Geralt / Pixabay

Ia menyatakan telah berbicara dengan para pemimpin utama Eropa dan menyebut ada dukungan luas terhadap langkah presiden AS. Rutte menambahkan bahwa Eropa meningkatkan peran serta dan memberikan dukungan yang diperlukan agar operasi dapat berjalan.

Meski begitu, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengambil nada lebih hati-hati. Ia mengingatkan risiko kebuntuan seperti yang terjadi di Irak dan Afghanistan, di mana Eropa pada akhirnya ikut menanggung konsekuensinya.

Desakan untuk Soliditas Aliansi

Justin Fulcher, mantan penasihat senior Hegseth, menyebut situasi ini sebagai titik belok sangat kritis bagi NATO. Menurutnya, aliansi tersebut seharusnya bertindak secara bersatu mendukung Amerika Serikat.

Advertisement

Ia menilai persatuan yang terlihat jelas akan mengirimkan pesan kuat, bukan hanya kepada Teheran, tetapi juga kepada rival geopolitik lain yang mengamati respons NATO dalam situasi penuh tekanan.

Fulcher juga menekankan bahwa Eropa memiliki kepentingan strategis besar dalam melemahkan kemampuan militer Iran, terutama terkait ancaman rudal balistik dan jaringan terorisme yang disponsori negara.

Mengenal NATO dan Perannya

NATO atau North Atlantic Treaty Organization dibentuk pada 4 April 1949 sebagai aliansi militer pertahanan bersama. Markas besarnya berada di Brussels, Belgia.

Prinsip utama NATO tertuang dalam Pasal 5, yakni pertahanan kolektif. Artinya, jika satu negara anggota diserang, maka serangan tersebut dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Anggotanya mencakup negara-negara Amerika Utara seperti Amerika Serikat dan Kanada, serta berbagai negara Eropa termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Turki.

NATO awalnya dibentuk untuk mencegah ekspansi Uni Soviet pada era Perang Dingin, menjaga stabilitas Eropa, dan memperkuat kerja sama militer negara-negara Barat.

Kini, lebih dari tujuh dekade kemudian, NATO kembali diuji oleh konflik besar yang berpotensi mengubah peta geopolitik global.

Akankah NATO Tetap Solid?

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi ujian nyata bagi kohesi NATO. Perbedaan sikap di antara anggota menunjukkan bahwa kepentingan nasional masing-masing negara tetap menjadi faktor utama.

Di satu sisi, Washington menuntut dukungan konkret. Di sisi lain, sejumlah negara Eropa khawatir terhadap konsekuensi jangka panjang dari konflik yang lebih luas.

Advertisement
Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Redaktur Pelaksana FIN.CO.ID