fin.co.id – Di tengah ketidakpastian situasi geopolitik global, Indonesia South-South Foundation (ISSF) menggelar diskusi strategis bertajuk "D8 Digital Bridge: Navigating Global Uncertainty" di Aryaduta Tugu Tani, Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Pertemuan eksklusif yang bertepatan dengan momen buka puasa bersama ini menghadirkan sejumlah pakar lintas sektor, mulai dari praktisi teknologi, perwakilan Kadin, hingga pengamat kebijakan publik. Diskusi ini bertujuan membedah dinamika dunia yang sedang berada dalam mode bertahan (survival mode) akibat tensi konflik internasional yang semakin tinggi.
Penyelenggara acara sekaligus Founder ISSF, Khiri Fuady menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara berkembang, terutama dalam menyambut peran Indonesia sebagai presidensi D8 (Developing 8). Menurutnya, negara-negara berkembang harus semakin sering berdiskusi untuk memperkuat posisi di tengah dominasi negara maju.
“Semua negara sedang egois dan mengedepankan kepentingan nasional masing-masing. Kita harus selalu berjaga dan merespons situasi ini sebagai warga negara,” ujar Khairi dalam pembukaan acara, Rabu Sore.
Mengupas Ancaman di Depan Mata
Diskusi ini menyoroti berbagai isu krusial, mulai dari stabilitas pasokan pangan, ketahanan digital, hingga prospek ekonomi ekspor di tengah ancaman konflik bersenjata. ISSF mengundang sejumlah tokoh strategis, di antaranya Direktur IT Digital PT Telkom, Faizal Rochmad Djoemadi, serta perwakilan dari Kadin Indonesia, Antonius Sukanto.
Para peserta diskusi berusaha memetakan dampak ekonomi jika perang meluas. Salah satu poin penting yang dibahas adalah sejauh mana kesiapan Indonesia dalam menghadapi gejolak global yang tidak hanya mengandalkan kalkulasi ekonomi, tetapi juga ideologi dan politik.
Selain pemaparan dari para panelis, forum ini juga menjadi wadah pertukaran pandangan dari berbagai kalangan, termasuk akademisi, aktivis, hingga jurnalis. Melalui dialog ini, ISSF berharap lahir rekomendasi strategis bagi Indonesia untuk menavigasi ketidakpastian dunia.
"Mudah-mudahan sajian diskusi hari ini memberikan manfaat bagi kita semua," tutup Khairi.
Pertemuan ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang lebih cair, mempertemukan pemikiran-pemikiran dari berbagai latar belakang industri guna memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. (*)