Tak hanya Inggris, Prancis juga bergerak cepat. Presiden Emmanuel Macron menginstruksikan pemindahan kapal induk bertenaga nuklir kebanggaan mereka, Charles de Gaulle.
Kapal induk tersebut akan berlayar menuju Laut Tengah dengan pengawalan udara serta kapal fregat. Salah satu fregat Prancis, Languedoc, telah merapat di lepas pantai Siprus pada Selasa malam waktu setempat.
Selain itu, militer Prancis juga menyiagakan jet tempur Rafale dan sistem pertahanan antipesawat tambahan. Radar udara jarak jauh turut dikirim ke kawasan Timur Tengah guna memperkuat deteksi ancaman.
Macron menyebut langkah ini sebagai implementasi perjanjian pertahanan antara Prancis dan Siprus.
“Siprus telah menjadi target dalam beberapa hari terakhir dan mereka membutuhkan dukungan kita,” kata Macron.
Yunani dan Jerman Turut Kirim Bantuan
Respons solidaritas juga datang dari Yunani dan Jerman. Yunani mengirim empat jet tempur F-16 dan dua kapal fregat ke kawasan tersebut. Salah satu kapal dilengkapi sistem Centauros untuk menghadapi ancaman drone terbang rendah.
Menteri Pertahanan Yunani, Nikos Dendias, menegaskan komitmen negaranya untuk membantu Republik Siprus dalam menghadapi situasi ini.
“Yunani hadir, dan akan terus hadir untuk membantu dengan cara apa pun dalam pertahanan Republik Siprus,” ujarnya.
Langkah ini dinilai penting mengingat beberapa wilayah rawan di Siprus belum memiliki sistem sirene peringatan dini. Evakuasi warga pun masih sangat bergantung pada bus kota dan kendaraan pribadi.
Eskalasi Konflik di Laut Tengah Meningkat
Pengerahan armada Inggris dan Prancis menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah kini berdampak langsung pada stabilitas Eropa. Laut Tengah bagian timur yang selama ini menjadi jalur strategis perdagangan dan militer kini berubah menjadi zona siaga tinggi.
Pengamat menilai bahwa mobilisasi militer besar-besaran ini bukan hanya soal melindungi pangkalan RAF Akrotiri, tetapi juga pesan tegas kepada Iran bahwa Eropa siap mempertahankan wilayah dan sekutunya. (*)