fin.co.id - Pemerintah melalui Badan Bank Tanah sedang menjalankan misi besar yang lebih dari sekadar pembagian lahan kosong. Lewat program Reforma Agraria, Badan Bank Tanah kini tengah bertransformasi menjadi katalisator ekonomi bagi masyarakat. Bukan lagi soal menyerahkan sertifikat lalu selesai, kini fokus utamanya adalah menciptakan ekosistem produktif di atas tanah-tanah yang dulunya "tidur" atau tidak termanfaatkan.
Langkah nyata ini dibuktikan melalui kolaborasi strategis yang baru saja diteken di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026. Badan Bank Tanah resmi menggandeng Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) serta Yayasan Astha Cita Masykur untuk menyulap lahan di Cianjur, Jawa Barat, menjadi pusat peternakan domba, kambing, hingga ayam petelur dengan skala ekonomi tinggi.
Mengubah Nasib Rakyat Lewat Reforma Agraria Produktif
Plt. Kepala Badan Bank Tanah, Hakiki Sudrajat, menegaskan bahwa visi Reforma Agraria saat ini sudah bergeser ke arah keberlanjutan ekonomi. Ia ingin memastikan bahwa tanah negara yang dialokasikan sebesar 30 persen untuk Reforma Agraria benar-benar menjadi modal bagi masyarakat untuk memperbaiki taraf hidup mereka secara mandiri dan berkelanjutan.
"Reforma agraria tidak hanya soal bagi-bagi tanah, tetapi tentang bagaimana tanah tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui kerja sama ini, kami ingin memastikan bahwa tanah yang dikelola Badan Bank Tanah benar-benar produktif, berdaya guna, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi penerima reforma agraria," ujar Hakiki Sudrajat dalam keterangannya, Kamis, 5 Maret 2026.
Ekosistem Peternakan dari Hulu ke Hilir
Strategi Badan Bank Tanah kali ini sangat komprehensif. Mereka tidak membiarkan masyarakat berjuang sendirian setelah menerima hak pengelolaan tanah. Pendampingan dilakukan secara terintegrasi mulai dari hulu hingga hilir. Artinya, masyarakat penerima manfaat mendapatkan pelatihan teknis, penguatan kelembagaan, hingga akses ke pasar atau off-taker.
Yayasan Astha Cita Masykur, misalnya, berkomitmen untuk mendampingi peternak ayam petelur dalam satu tahun penuh. Mereka menyediakan segalanya, mulai dari penyediaan bibit berkualitas, pembangunan kandang yang standar, hingga memastikan hasil panen terserap oleh pasar.
Sementara itu, HPDKI akan menjadi mentor utama bagi peternak domba dan kambing. Langkah ini diharapkan mampu membentuk ekosistem peternakan yang tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di pasar nasional.
Solusi Konkret bagi Ekonomi Daerah
Kerja sama ini bukan sekadar seremoni. Ketua Pengurus HPDKI, Yudi Guntara Noor, melihat inisiatif Badan Bank Tanah sebagai solusi nyata yang selama ini dinanti oleh para peternak lokal. Menurutnya, potensi peternakan di Indonesia sangat besar, namun kerap terkendala pada akses lahan dan permodalan yang memadai. Dengan kehadiran Badan Bank Tanah, hambatan tersebut kini mulai terurai.
"Kerja sama ini menjadi langkah awal yang ke depan dapat menjadi salah satu solusi dalam pengembangan peternakan domba dan kambing di Indonesia," kata Yudi Guntara Noor.
Ke depannya, pola pemberdayaan ini diharapkan bisa direplikasi di wilayah lain di seluruh Indonesia yang memiliki aset tanah di bawah pengelolaan Badan Bank Tanah. Dengan mengombinasikan pemanfaatan lahan strategis dan keahlian teknis dari mitra pendamping, pemerintah optimis mampu menekan angka kemiskinan sekaligus memperkuat kemandirian pangan nasional dari sektor peternakan.
Jadi, buat kamu yang mungkin selama ini skeptis dengan program Reforma Agraria, mungkin inilah saatnya melihat perubahan. Tanah yang dulu terbengkalai, kini mulai berdenyut dengan aktivitas ekonomi yang menjanjikan. Ini bukan lagi soal memberikan "ikan", tapi memberikan "kail" yang tepat agar masyarakat di Cianjur dan sekitarnya bisa mandiri secara finansial. (*)