Lonjakan harga minyak dan gas dunia saat ini tidak lepas dari konflik militer yang terjadi di Timur Tengah.
Serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu serangan balasan dari Teheran ke sejumlah negara Teluk Arab.
Situasi ini mengganggu jalur distribusi energi penting dunia, terutama di kawasan Selat Hormuz.
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak dari negara-negara Teluk.
Gangguan di jalur ini berdampak besar terhadap distribusi energi global.
Konflik tersebut bahkan dilaporkan memaksa penutupan produksi LNG di Qatar serta menghentikan operasi kilang minyak terbesar di Arab Saudi.
Putin menyebut kenaikan harga energi terjadi akibat apa yang ia sebut sebagai “agresi terhadap Iran” serta kebijakan Barat yang membatasi ekspor minyak Rusia.
Menurutnya, kenaikan harga gas juga terjadi karena munculnya pembeli yang bersedia membayar lebih mahal di tengah krisis energi.
“Pelanggan telah muncul yang bersedia membeli gas alam yang sama dengan harga lebih tinggi, dalam hal ini karena peristiwa di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz,” kata Putin.
Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan dinamika bisnis biasa di pasar energi global.
Rusia Pertimbangkan Tinggalkan Pasar Energi Eropa
Menanggapi rencana Uni Eropa yang akan menghentikan impor gas pipa Rusia pada akhir 2027 dan melarang kontrak LNG jangka pendek baru mulai April 2026, Putin mengatakan Rusia mungkin akan mempertimbangkan langkah drastis.
Menurutnya, tidak menutup kemungkinan Rusia justru akan menghentikan pasokan ke Eropa lebih awal dan mengalihkan ekspor energinya ke pasar lain.
“Sekarang pasar lain sedang terbuka. Mungkin akan lebih menguntungkan bagi kami untuk menghentikan pasokan ke pasar Eropa sekarang juga,” ujar Putin.