Selain faktor ekonomi, ketegangan juga diperkuat oleh faktor identitas dan politik kawasan.
Iran dikenal sebagai negara beretnis Parsi dengan mayoritas penduduk beraliran Syiah. Sementara sebagian besar negara Arab Teluk memiliki populasi mayoritas Sunni.
Perbedaan identitas ini kerap memperdalam rivalitas geopolitik di kawasan, terutama dalam perebutan pengaruh politik di Timur Tengah.
Sejak terjadinya Revolusi Islam Iran 1979, pemerintah di Teheran aktif memperluas pengaruhnya di berbagai negara melalui jaringan politik maupun kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran.
Jaringan Proksi Iran di Timur Tengah
Laporan dari Sky News pada 2025 menyebutkan bahwa Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memanfaatkan jaringan proksi untuk memperluas pengaruh Iran tanpa harus terlibat langsung dalam perang konvensional skala besar.
Jaringan tersebut mencakup sejumlah kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah, antara lain:
-
Hamas di Palestina
-
Hezbollah di Lebanon
-
Houthi Movement di Yaman
-
Milisi pro-Iran di Irak dan Suriah
Kelompok Hezbollah sendiri diketahui didirikan oleh IRGC pada tahun 1982, dengan tujuan awal melawan invasi Israel ke Lebanon pada tahun yang sama.
Strategi jaringan proksi ini membuat Iran mampu memperluas pengaruh politik dan militer tanpa harus terlibat langsung dalam konflik berskala besar dengan negara rivalnya.
Serangan Balasan Iran Setelah Khamenei Gugur
Situasi kawasan semakin memanas setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Hosseini Khamenei, pada Sabtu (28/2/2026).
Peristiwa tersebut memicu serangkaian serangan balasan dari militer Iran terhadap fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Target serangan mencakup pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara Teluk.
Bahkan, Iran juga melancarkan serangan udara yang menargetkan kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di ibu kota Riyadh, Arab Saudi, pada Selasa (3/3) dini hari.