fin.co.id - Delapan mahasiswa asal Gaza, Palestina yang menjadi korban konflik bersenjata di negaranya, berkesempatan untuk melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Negeri Gadjah Mada (UGM).
Kini, delapan mahasiswa Palestina itu tengah mengikuti proses seleksi masuk UGM.
“Salah satu dari mahasiswa tersebut bernama Dina, mahasiswa kedokteran asal Al-Azhar University Gaza yang terpaksa terhenti pada 2023, sebab kampusnya menjadi sasaran bom hingga hancur lebur,” kata Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, Kamis, 5 Maret 2026, dikutip dari website UGM.
Yodi menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya membangkitkan kembali pendidikan kedokteran dan kesehatan bagi masyarakat Gaza.
“Cerita Dina dan teman-temannya tersebut merupakan satu sekian banyak catatan yang mewarnai fakultas ini dalam mencerdaskan dan memajukan kesehatan bangsa dan dunia,” ungkapnya.
Indonesia Tampung Banyak Mahasiswa Palestina
Indonesia menjadi salah satu negara yang menampung mahasiswa Palestina untuk meneruskan studi mereka, karena terkendala konflik berkepanjangan di negara mereka.
Pada akhir tahun lalu, Rektor Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Letjen TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., bersama Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia, Dr. Zuhair S. M. A-Shun, menyambut kedatangan 22 Calon Kadet Mahasiswa Internasional asal Palestina, terdiri dari 14 putra dan 8 putri, sebagai Gelombang Ke-3 penerima Program Beasiswa Kementerian Pertahanan RI.
Langkah ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam memperkuat kerja sama pertahanan serta diplomasi pendidikan yang berorientasi pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia Palestina.
Anton menegaskan, bahwa kehadiran para mahasiswa Palestina merupakan wujud nyata solidaritas Indonesia dan bagian penting dari diplomasi pertahanan berbasis pendidikan.
“Atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, saya menyampaikan selamat datang di Indonesia. Kehadiran kalian bukan hanya perjalanan akademis, tetapi simbol persaudaraan dan harapan bagi masa depan Palestina,” ujarnya.