Alih-alih melawan di medan terbuka, IRGC kemungkinan akan menarik pertempuran ke kota-kota besar seperti Teheran, Isfahan, dan Shiraz.
Dalam skenario tersebut, peluncur rudal bergerak dan sistem persenjataan berat dapat ditempatkan di kawasan padat penduduk.
Langkah ini berpotensi menjadikan warga sipil sebagai perisai manusia, karena setiap serangan balasan terhadap fasilitas militer akan berisiko menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.
Strategi seperti ini sering digunakan dalam perang asimetris untuk menekan lawan secara moral dan politik.
Jaringan Milisi Proksi Siap Dilepaskan
Iran selama bertahun-tahun membangun jaringan milisi proksi di berbagai wilayah Timur Tengah. Kelompok-kelompok ini sering disebut sebagai bagian dari “poros perlawanan”.
Beberapa kelompok yang berada dalam jaringan tersebut antara lain:
-
Hezbollah di Lebanon
-
Houthi movement di Yaman
-
berbagai milisi bersenjata di Irak
Selama ini, Iran dikenal cukup hati-hati dalam mengendalikan kelompok-kelompok tersebut agar konflik tidak berkembang menjadi perang besar.
Namun, menurut Mishra, situasi bisa berubah drastis jika IRGC memutuskan untuk melepaskan seluruh kekuatan milisi secara bersamaan.
Dalam skenario tersebut, serangan bisa terjadi secara simultan terhadap berbagai target strategis, termasuk:
-
Kota Tel Aviv di Israel
-
Kapal perang Amerika di kawasan Teluk
-
Kilang minyak negara-negara Teluk Arab
Serangan semacam ini berpotensi memicu respons militer besar-besaran dari AS dan sekutunya.
Risiko Perang Besar di Timur Tengah
Para analis memperingatkan bahwa jika konflik ini terus meningkat, dampaknya tidak hanya terbatas pada Iran dan Israel.