fin.co.id - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeluarkan pernyataan paling agresif dalam sejarah konflik Timur Tengah. Militer elit Teheran tersebut menegaskan tekadnya untuk memburu dan melenyapkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai bentuk pembalasan atas serangan terhadap kedaulatan Iran.
Dalam pernyataan resmi pada Minggu 15 Maret 2026, IRGC menyebut nasib pemimpin Israel tersebut kini berada di ujung tanduk. Mereka menyoroti ketidakpastian kondisi Netanyahu dan potensi pelarian keluarganya dari wilayah pendudukan sebagai bukti nyata krisis stabilitas di internal pemerintahan Zionis.
"Jika 'pembunuh anak-anak' itu masih hidup, kami akan terus melanjutkan pengejaran secara agresif hingga Netanyahu berhasil dilenyapkan," tegas pernyataan IRGC sebagaimana dikutip dari kantor berita Tasnim.
Pernyataan ini muncul berbarengan dengan laporan gelombang ke-52 dari Operasi Janji Sejati 4 (Operation True Promise 4). Iran mengeklaim telah meluncurkan serangan rudal besar-besaran yang menghantam sektor industri strategis di Tel Aviv.
Efek serangan tersebut dilaporkan sangat fatal, ditandai dengan raungan sirene ambulans yang tak henti-henti serta pengakuan institusi setempat mengenai lonjakan jumlah korban.
Tak hanya menyasar Israel, serangan gabungan rudal dan pesawat tak berawak (drone) Iran juga meluluhlantakkan tiga basis militer Amerika Serikat di kawasan. Titik-titik tersebut meliputi Pangkalan Udara Al-Harir di Erbil, Pangkalan Udara Ali Al Salem, serta Camp Arifjan. Serangan ini bertujuan membalas kematian para pekerja industri Iran yang gugur akibat agresi AS-Israel sebelumnya.
Konflik terbuka ini terus membara sejak pembunuhan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei pada akhir Februari lalu. Sejak saat itu, Iran secara konsisten membalas setiap serangan udara yang merusak infrastruktur sipil maupun militer mereka, menjadikan kawasan Timur Tengah berada dalam status siaga perang total.