Internasional . 17/03/2026, 11:15 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
“Bukankah Trump mengatakan angkatan laut Iran telah dihancurkan? Jika demikian, biarkan dia mengirimkan kapalnya jika dia berani,” tegas perwakilan IRGC.
Pernyataan ini semakin memperkeruh suasana dan memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga mengarah pada potensi konfrontasi militer.
Di tengah tekanan dari Washington, sejumlah negara sekutu justru memilih untuk tidak terlibat langsung dalam konflik.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa pemerintah Jepang belum memiliki rencana untuk mengirim kapal angkatan laut ke Selat Hormuz.
“Kami belum membuat keputusan apa pun terkait pengiriman kapal pengawal,” ujarnya di parlemen.
Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Australia. Menteri Transportasi, Catherine King, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.
Sebagai gantinya, Australia hanya akan memberikan dukungan berupa pesawat untuk membantu pertahanan di Uni Emirat Arab.
Langkah ini menunjukkan bahwa tidak semua sekutu AS siap mengikuti strategi militer Washington di kawasan Timur Tengah.
Di tengah meningkatnya tensi, pejabat militer Iran mengungkapkan bahwa kekuatan mereka masih sangat solid.
Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini menyatakan bahwa sebagian besar persenjataan milik IRGC masih utuh, bahkan sejumlah senjata canggih belum digunakan.
Ia mengklaim bahwa sejak konflik yang dimulai pada 28 Februari, Iran telah meluncurkan sekitar:
700 rudal
3.600 drone
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media