fin.co.id - Bank Indonesia mengakui konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak akhir Februari 2026 telah memperburuk kondisi serta prospek perekonomian global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan, dampak konflik tersebut terasa pada pelemahan nilai tukar serta keluarnya arus modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Nilai tukar rupiah pada tanggal 16 Maret 2026 tercatat sebesar Rp 16.985 per dolaran AS melemah 1,29 persen point to point dibandingkan dengan level akhir Februari 2026 sejalan dengan pelemahan mata uang negara non-USD," jelas Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa, 17 Maret 2026.
Ia menambahkan, kondisi global yang tidak menentu juga berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia serta mendorong kenaikan harga minyak. Hal ini dinilai dapat memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia hingga mendekati batas atas kisaran 0,1–0,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Dalam kaitannya, sinergi kebijakan untuk memperkuat kinerjaan neraca pembayaran dan ketahanan eksternal, termasuk membangun kepercayaan investor global perlu terus ditingkatkan," tegasnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah tetap optimistis terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Menurutnya, sejumlah indikator fundamental masih menunjukkan kondisi yang solid, di antaranya cadangan devisa yang mencapai sekitar 151,9 miliar dolar AS atau setara enam bulan impor, serta rasio perdagangan luar negeri yang berada di kisaran 42 persen dari PDB.
"Jadi risiko external shock juga terkendali. Dari segi manufaktur juga baik, 53,8 persen. Ini sebetulnya all time high, ini tertinggi, artinya para manufaktur ini optimis," ujar Airlangga.
Ia pun menambahkan, dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 berpotensi lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.
"Jadi dengan angka-angka ini, sebetulnya kami optimis pertumbuhan di kuartal pertama itu angkanya bisa lebih tinggi dari Desember kuartal keempat tahun lalu. Jadi dengan angka-angka ini cukup optimis pertumbuhan bisa di sekitar 5,5 persen," pungkasnya.
Bianca Khairunnisa/Disway