Selat Hormuz Jadi Senjata Strategis
Dari pihak Iran, sikap keras justru semakin ditegaskan. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat tekanan terhadap AS dan Israel.
Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran dunia bahwa krisis bisa berlangsung lama dan berpotensi meluas.
Di sisi lain, Uni Eropa mulai membahas kemungkinan memperluas misi angkatan laut mereka ke Selat Hormuz.
Kepala kebijakan luar negeri UE, Kaja Kallas, dijadwalkan membahas langkah tersebut dalam pertemuan penting di Brussels.
Harga Minyak Terancam Melejit
Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar isu regional, tapi ancaman global. Jalur ini dilalui sekitar 20–21 juta barel minyak per hari—setara 20% konsumsi dunia.
Jika jalur ini benar-benar tertutup, harga minyak diperkirakan bisa melonjak di atas US$100 per barel dalam waktu singkat. Dampaknya akan terasa luas, mulai dari kenaikan harga BBM hingga inflasi global.
Gedung Putih bahkan mulai mempertimbangkan berbagai opsi darurat, termasuk:
-
Melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia
-
Melepas cadangan minyak strategis
-
Meningkatkan pasokan dari Venezuela
Namun, banyak pelaku industri menilai langkah tersebut hanya solusi sementara. Membuka kembali Selat Hormuz tetap menjadi kunci utama.
Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Di utara terdapat Iran, sementara di selatan berbatasan dengan Oman dan Uni Emirat Arab.
Meski panjangnya sekitar 167 km, bagian tersempitnya hanya 33 km—menjadikannya titik rawan gangguan.
Tak hanya minyak, sekitar 20% pasokan gas alam cair (LNG) dunia juga melewati jalur ini, terutama dari Qatar.