Takbiran dimulai sejak matahari terbenam di malam 1 Syawal hingga pelaksanaan shalat Id.
Dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah menjelaskan:
يكبر من غروب الشمس من ليلة الفطر إلى خروج الإمام إلى الصلاة، في إحدى الروايتين. وهو قول الشافعي. وفي الأخرى إلى فراغ الإمام من الصلاة
Artinya: “Takbir dimulai sejak terbenam matahari hingga imam keluar untuk shalat Id menurut salah satu riwayat (dari imam Ahmad). Dan ini merupakan pendapat as-Syafii. Sementara dalam keterangan yang lain, takbir dihentikan hingga selesainya imam mengerjakan shalat id. (al-Mughni, 2/274).”
Hadis juga menyebutkan:
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر
Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak salat pada hari raya Idulfitri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai salat hendak dilaksanakan. Ketika salat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”
Setelah shalat Id selesai, takbiran pun dihentikan.
Keutamaan Takbiran Idulfitri
Mengumandangkan takbir termasuk amalan besar untuk menghidupkan malam hari raya. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Barangsiapa menghidupkan malam hari raya, maka Allah akan menghidupkan hatinya saat hati manusia lain mati.”
Takbiran menjadi simbol rasa syukur atas nikmat Ramadan sekaligus bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Mengumandangkan takbir di malam Idulfitri bukan sekadar tradisi, tetapi ibadah penuh makna yang dianjurkan dalam Islam. Dengan membaca takbir, umat Islam mengekspresikan rasa syukur, kemenangan, dan penghambaan kepada Allah SWT.