fin.co.id - Konflik di Timur Tengah kembali memanas dan kini memunculkan dinamika baru yang cukup mengejutkan. Hubungan antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu dilaporkan mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan setelah serangan terhadap ladang gas Iran memicu eskalasi besar di kawasan Teluk.
Situasi ini semakin kompleks karena bukan hanya melibatkan dua negara tersebut, tetapi juga menyeret Iran serta negara-negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab dalam pusaran konflik yang semakin meluas.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa dirinya telah meminta Israel untuk tidak menyerang fasilitas energi Iran, khususnya ladang gas strategis di Pars Selatan.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa ia telah memberi peringatan langsung kepada Netanyahu.
“Saya mengatakan kepadanya, ‘Jangan lakukan itu’, dan dia tidak akan melakukannya,” ujar Trump.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa serangan tetap terjadi. Hal ini memicu spekulasi bahwa koordinasi antara Washington dan Tel Aviv tidak lagi sekuat sebelumnya.
Perbedaan Tujuan AS dan Israel Mulai Terbuka
Untuk pertama kalinya, pejabat tinggi AS secara terang-terangan mengakui adanya perbedaan strategi dalam menghadapi Iran.
Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, menyebut bahwa fokus kedua negara tidak lagi sejalan:
-
Israel: menargetkan melumpuhkan kepemimpinan Iran
-
Amerika Serikat : fokus menghancurkan kemampuan militer, terutama rudal balistik dan angkatan laut Iran
Pernyataan ini memperjelas bahwa meski masih bersekutu, arah operasi militer keduanya mulai berbeda.
Serangan Iran Balik Menghantam Negara Teluk
Sebagai respons atas serangan ke ladang gas Pars, Iran langsung melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk.