Target serangan mencakup:
-
Infrastruktur gas di Qatar
-
Fasilitas minyak di Arab Saudi
-
Instalasi energi di Uni Emirat Arab dan Kuwait
Serangan ini memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada Iran vs Israel, tetapi telah berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.
Iran bahkan mengancam akan melakukan serangan lanjutan jika fasilitas energinya kembali menjadi target.
Trump Berusaha Jaga Jarak dari Serangan Israel
Menariknya, di tengah eskalasi yang semakin tinggi, Donald Trump justru terlihat mencoba menjaga jarak dari aksi militer Israel.
Dalam pernyataan di media sosial, Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat:
-
Tidak mengetahui serangan tersebut sebelumnya
-
Tidak terlibat langsung dalam operasi ke ladang gas Iran
-
Menegaskan Israel tidak akan melanjutkan serangan jika Iran berhenti menyerang
Namun pernyataan ini bertolak belakang dengan laporan sejumlah pejabat yang menyebut adanya koordinasi antara AS dan Israel dalam operasi militer sebelumnya.
Konflik Memanas Sejak Akhir Februari 2026
Perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat diketahui telah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Dalam beberapa pekan terakhir:
-
Israel intens menyerang target militer dan elite Iran
-
AS fokus menghantam fasilitas terkait program rudal
-
Iran membalas dengan menyerang infrastruktur energi regional
Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah berada dalam kondisi sangat tidak stabil.
Ladang gas Pars Selatan merupakan salah satu sumber energi terbesar di dunia. Serangan terhadap fasilitas ini tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga berpotensi mengguncang pasar energi global.
Ketegangan ini juga membuka risiko: