fin.co.id - Dua pekan terakhir, langit Iran dipenuhi dentuman serangan udara. Rudal presisi milik Amerika Serikat dan Israel menghantam berbagai target strategis, mulai dari fasilitas militer hingga pusat komando Islamic Revolutionary Guard Corps.
Namun di balik gempuran militer tersebut, perang yang tak kalah sengit justru terjadi di meja diplomasi. Alih-alih mendapat dukungan global, langkah Presiden Donald Trump malah berujung penolakan dari sekutu-sekutunya sendiri.
Upaya Washington membentuk “koalisi pembuka blokade” di Selat Hormuz ternyata tidak berjalan mulus. Sejumlah negara besar seperti Inggris, Jerman, Prancis, Italia, hingga Jepang secara tegas menolak terlibat.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius bahkan menyatakan dengan lugas bahwa konflik tersebut bukan urusan mereka.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menegaskan negaranya tidak ingin terseret ke konflik yang lebih luas. Senada, Prancis menyebut posisinya murni defensif dan tidak akan ikut dalam perang melawan Iran.
Penolakan kolektif ini menjadi sinyal kuat bahwa dukungan terhadap langkah militer AS di Timur Tengah mulai melemah.
Tiga Kepentingan, Satu Konflik yang Rumit
Menurut analis keamanan Frank Gardner, konflik ini dipenuhi tujuan yang saling bertabrakan antara tiga aktor utama: Amerika Serikat, Iran, dan Israel.
1. Amerika Serikat: Tujuan yang Tak Jelas
Bagi Washington, arah perang dinilai tidak konsisten. Mulai dari membatasi program nuklir Iran, memaksa kepatuhan total, hingga ambisi menjatuhkan rezim di Teheran.
Dalam skenario ideal AS, kekuasaan ulama di Iran runtuh dan digantikan pemerintahan baru yang lebih moderat. Namun hingga kini, tanda-tanda itu belum terlihat.
2. Iran: Bertahan Adalah Kemenangan
Bagi Iran, konflik ini adalah soal eksistensi. Pemerintah di Teheran ingin perang segera berakhir, tetapi tanpa harus tunduk pada tuntutan Washington.
Dengan garis pantai panjang di Teluk, Iran memiliki keunggulan strategis untuk mengancam jalur perdagangan global, khususnya di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.