Salah satu fokus utama program ini adalah membantu petani yang selama ini kesulitan mendapatkan akses pembiayaan.
Prabowo menjelaskan bahwa siklus pertanian yang membutuhkan waktu sekitar 120 hari dari tanam hingga panen sering kali membuat petani terpaksa mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam kondisi mendesak, banyak petani akhirnya meminjam kepada rentenir dengan bunga tinggi, yang justru memperburuk kondisi ekonomi mereka.
“Kalau ada kebutuhan mendadak, mereka terpaksa pinjam ke rentenir, dan bunganya sangat tinggi,” ujarnya.
Melalui program KopDes Merah Putih, pemerintah berharap dapat memutus rantai ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman berbunga tinggi.
Kehadiran koperasi diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menciptakan sistem keuangan yang lebih inklusif dan berkeadilan, terutama bagi masyarakat desa.
Selain itu, program ini juga diyakini bisa menjadi model atau studi kasus bagi negara lain dalam mengembangkan ekonomi berbasis koperasi.
Jika berjalan sesuai rencana, keberadaan puluhan ribu koperasi desa ini berpotensi memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional.
Tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, program ini juga dapat memperkuat ekonomi desa, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan UMKM.
Meski menjanjikan, implementasi program ini tetap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kesiapan infrastruktur, manajemen koperasi, hingga pengawasan agar kredit benar-benar tepat sasaran.
Namun dengan komitmen pemerintah, KopDes Merah Putih diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam mengatasi ketimpangan akses pembiayaan di Indonesia. (*)