fin.co.id - Konflik panas di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari 2026.
Laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa sebagian besar pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk kini mengalami kerusakan parah hingga tidak bisa dihuni.
Situasi ini memaksa ribuan tentara AS meninggalkan pangkalan dan berpindah ke lokasi darurat seperti hotel hingga gedung perkantoran.
Kondisi di lapangan disebut sangat tidak biasa. Banyak personel militer AS yang kini menjalankan operasi dari lokasi sementara.
Sebagian besar pasukan darat bahkan disebut “berperang dari jarak jauh”, sementara hanya pilot dan awak pesawat tempur yang tetap beroperasi langsung dari fasilitas militer.
Langkah ini diambil setelah gelombang serangan drone dan rudal dari Iran menghantam berbagai instalasi penting militer AS di kawasan.
Serangan Iran bukan tanpa alasan. Negara tersebut merespons keras serangan sebelumnya yang menargetkan:
-
Pangkalan militer
-
Kedutaan besar
-
Infrastruktur minyak dan gas
Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal ke berbagai titik strategis di negara-negara Teluk.
Tak hanya itu, Iran juga dilaporkan menutup sebagian Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia—yang berpotensi memicu dampak global.
Pangkalan AS di Kuwait hingga Qatar Hancur
Dari total 13 pangkalan militer AS di kawasan, banyak yang dilaporkan tidak lagi layak digunakan.
Di Kuwait, kerusakan paling parah terjadi di Port Shuaiba yang menghancurkan pusat operasi taktis Angkatan Darat AS dan menewaskan enam personel.
Serangan juga menghantam: