Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan menyentuh level USD 111,54 per barel.
Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, terutama jika konflik semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak juga terlihat pada berbagai instrumen investasi berbasis energi.
Salah satunya adalah United States Oil Fund yang melacak harga minyak WTI.
Dana investasi ini tercatat melonjak hingga 68,30 persen dalam satu bulan terakhir dan hampir 97,76 persen sejak awal tahun.
Sementara itu, dana pelacak Brent, United States Brent Oil Fund, juga mengalami kenaikan signifikan.
Instrumen ini naik sekitar 55,47 persen dalam sebulan dan mencapai 89,76 persen sepanjang tahun berjalan.
Lonjakan tersebut menunjukkan bagaimana pasar energi global sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik.
Kenaikan harga minyak yang dipicu konflik geopolitik sering kali berdampak luas terhadap perekonomian global.
Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya produksi, memperbesar inflasi, dan menekan pertumbuhan ekonomi di banyak negara.
Selain itu, lonjakan harga energi juga dapat memengaruhi kebijakan fiskal pemerintah, terutama di negara-negara yang masih memberikan subsidi energi bagi masyarakat.
Situasi ini membuat banyak negara kini memantau perkembangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat dengan sangat cermat.
Jika ketegangan terus meningkat, pasar energi dunia diperkirakan akan tetap bergejolak dalam beberapa waktu ke depan. (*)