Nasional . 05/04/2026, 08:39 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id - Duka menyelimuti Dusun Deyangan, Mertoyudan, Magelang, seiring kepulangan Sersan Kepala (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan. Prajurit medis yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda XXIII-S/UNIFIL ini gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian dunia di Lebanon Selatan, Senin, 30 Maret 2026.
Di balik seragam lorengnya, pria kelahiran 12 Mei 2000 ini meninggalkan kisah menyentuh. Sebelum insiden maut menimpa kendaraan konvoi logistik yang ia kawal, Sertu Ichwan sempat mengirimkan pesan singkat yang tidak biasa kepada sang istri, Hanadita Anjani (26).
Hanadita mengenang suaminya sebagai sosok penyayang yang sangat memprioritaskan keluarga. Meski berada di zona konflik, Sertu Ichwan rela membeli kartu provider khusus agar komunikasi dengan anak dan istrinya di tanah air tidak terputus.
Sesaat sebelum dinyatakan gugur, almarhum mengirimkan sebuah pesan panjang melalui aplikasi pesan singkat. Isinya berupa ungkapan terima kasih yang mendalam kepada Hanadita karena telah menjadi istri yang baik dan ibu yang hebat bagi buah hati mereka.
"Kemarin suami saya sebelum ini (gugur) sempat mengirim pesan panjang. Isinya ucapan terima kasih sudah menjadi istri dan menjadi ibu. Komunikasi kami sebenarnya sangat lancar," kenang Hanadita dengan nada bergetar di rumah duka.
Pesan tersebut kini dirasakan keluarga sebagai firasat atau salam pamit terakhir. Apalagi, almarhum dijadwalkan akan mengakhiri masa tugasnya dan kembali ke pelukan keluarga pada Mei 2026 mendatang. Kepergiannya meninggalkan seorang bayi yang baru menginjak usia tujuh bulan.
Karier militer Muhammad Nur Ichwan bermula pada tahun 2019 melalui jalur pendidikan Bintara. Sebagai lulusan SMA Negeri 1 Mertoyudan, ia memilih pengabdian di bidang kesehatan. Sebelum terbang ke Lebanon, Sertu Ichwan bertugas di Kesdam IX/Udayana, Bali, dan sempat berdinas di RSAD Udayana Denpasar serta RST Magelang.
Keahlian medisnya sangat vital di medan tugas. Di Lebanon, ia berperan sebagai personel medis lapangan yang memberikan dukungan kesehatan bagi pasukan patroli di wilayah perbatasan yang rawan konflik.
Tragedi terjadi saat Sertu Ichwan tergabung dalam tim pengawal konvoi logistik PBB. Kendaraan yang ia tumpangi bersama Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar terkena ledakan, yang diduga berasal dari ranjau atau IED di wilayah Bani Hayyan. Insiden ini terjadi di tengah eskalasi tinggi di area Blue Line (perbatasan Lebanon-Israel).
Ketua RT setempat, Safrodin, memberikan kesaksian bahwa Sertu Ichwan adalah pemuda yang memiliki attitude luar biasa. Meski sudah menjadi prajurit elit, ia tetap menjaga sopan santun dan keramahan kepada tetangga setiap kali pulang ke Magelang.
"Anaknya sangat baik dan sopan. Kami mengenalnya sebagai perawat yang hebat, dulu tugas di RST Magelang lalu pindah ke Bali sebelum berangkat ke luar negeri," ujar Safrodin.
Kini, Sang Perawat telah beristirahat dengan tenang di tanah kelahirannya. Negara memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas pengabdian Sertu Ichwan yang gugur demi tegaknya perdamaian di bumi manusia. Jasanya akan selalu dikenang oleh bangsa, dan kasih sayangnya akan tetap hidup di hati keluarga kecil yang ditinggalkannya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media