Sosok Saleh di Balik Baret Merah: Kisah Kapten Zulmi Aditya yang Gugur dalam Misi PBB

news.fin.co.id - 05/04/2026, 10:13 WIB

Sosok Saleh di Balik Baret Merah: Kisah Kapten Zulmi Aditya yang Gugur dalam Misi PBB

Potret Kapten Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, perwira Grup 2 Kopassus yang gugur saat menjalankan tugas sebagai Danki Task Force B UNIFIL di Lebanon.Foto:IST

fin.co.id - Gugurnya Kapten Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar dalam misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan menyisakan duka mendalam bagi korps baret merah dan keluarga besar di Kota Cimahi. Perwira pertama dari satuan elit Grup 2 Kopassus ini dikenal bukan hanya karena ketangkasan militernya, melainkan juga karena karakter religiusnya yang kuat selama bertugas di medan laga.

Alumni Akademi Militer (Akmil) tahun 2015 ini menjabat sebagai Komandan Kompi (Danki) Task Force B pada Satgas Yonmek Kontingen Garuda XXIII-S/UNIFIL. Ia mengembuskan napas terakhir pada Senin, 30 Maret 2026, setelah kendaraan yang ditumpanginya terkena ledakan fatal di wilayah Bani Hayyan, Lebanon Selatan.

Pribadi Saleh dan Kebanggaan Keluarga

Di mata keluarga dan tetangga di Kampung Cikendal, Cipageran, Cimahi Utara, Zulmi merupakan representasi prajurit yang taat. Meski meniti karier di satuan tempur elit Kopassus sejak awal berdinas, ia tidak pernah meninggalkan sisi religiusnya.

Advertisement

Risman Efendi, kakak sepupu almarhum, mengenang Zulmi sebagai sosok yang selalu membawa narasi agama dalam setiap percakapan. Keteguhan imannya menjadi fondasi bagi Zulmi dalam menghadapi kerasnya penugasan di wilayah perbatasan yang rawan konflik.

"Dia sosok yang sangat saleh dan selalu bicara soal agama. Sampai detik terakhirnya, Zulmi tetap menjadi kebanggaan besar bagi keluarga kami," ungkap Risman penuh haru.

Hal senada diungkapkan Rusmin, Ketua RT di lingkungan orang tua almarhum. Menurutnya, Zulmi dikenal sebagai pemuda yang pintar, santun, dan sangat religius sehingga menjadi teladan bagi pemuda di kampung halamannya.

Firasat dan Kekhawatiran di Tengah Eskalasi Global

Kekhawatiran keluarga memuncak dalam beberapa pekan terakhir seiring pecahnya eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Tekanan psikologis ini dirasakan betul oleh sang istri, Habibah Apriliani, yang merupakan seorang perawat di Puskesmas Kartasura.

Dalam komunikasi terakhirnya, ayah dari dua anak ini sering mengirimkan foto kegiatan serta meminta doa restu dari keluarga di tanah air. Meski kondisi di lapangan semakin mencekam akibat ancaman serangan artileri dan ranjau, Zulmi memilih untuk tidak mengeluh agar tidak menambah beban pikiran orang tuanya.

"Zulmi tidak pernah mengeluh, dia melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Mungkin dia sengaja tidak menceritakan sepenuhnya bagaimana kondisi berbahaya di sana demi menjaga perasaan kami," tambah Risman.

Ironisnya, maut menjemput hanya sebulan sebelum masa penugasan Zulmi berakhir pada April 2026. Keinginan keluarga untuk menyambut kepulangannya di Cimahi berganti dengan prosesi penjemputan peti jenazah.

Gugur Saat Menjalankan Misi Mulia

Advertisement

Insiden tragis tersebut terjadi saat Kapten Zulmi memimpin misi pengawalan konvoi logistik Combat Support Service Unit (CSSU) dari Spanyol. Selain mengawal logistik, tim tersebut tengah dalam misi menjemput jenazah rekan seperjuangan, Praka Farizal Romadhon.

Saat melintas di Bani Hayyan, sebuah ledakan hebat menghantam kendaraan pertama yang ditumpangi Kapten Zulmi. Selain merenggut nyawa Zulmi dan Sertu Ikhwan, insiden tersebut juga menyebabkan sejumlah prajurit lainnya mengalami luka-luka.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID