fin.co.id – Lonjakan harga plastik sejak Maret 2026 kian terasa dampaknya. Kenaikan yang mencapai 80 hingga 90 persen ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku plastik (nafta) akibat konflik di Timur Tengah, sehingga harga impor biji plastik ikut melonjak.
Pemilik Toko Sumber Makmur, William, mengatakan kenaikan terjadi signifikan dan merata di hampir semua jenis plastik.
“Kenaikannya cukup signifikan, bahkan hampir mencapai 80 sampai 90 persen,” ujarnya, Selasa, 7 April 2026.
Ia mencontohkan, harga kantong kresek putih yang sebelumnya Rp13.800 per bungkus kini naik menjadi sekitar Rp23.000. Kenaikan juga terjadi pada plastik murni maupun daur ulang, disertai pasokan yang semakin terbatas.
Menurutnya, kondisi ini merupakan yang terburuk dibandingkan sebelumnya. Biasanya, kenaikan hanya terjadi saat momen tertentu seperti Idul Fitri dan masih dalam batas wajar.
“Biasanya hanya naik Rp500 sampai Rp2.000 per bungkus, lalu kembali normal. Ini kenaikan tertinggi yang pernah terjadi,” katanya.
Keterbatasan pasokan juga dirasakan di berbagai daerah lain, bahkan distribusi barang harus diperebutkan antar pelaku usaha.
Sembako dan Air Mineral Ikut Terkerek
Dampak kenaikan harga plastik turut merembet ke sejumlah kebutuhan pokok. Berdasarkan pantauan di Pasar Drajat, harga beberapa komoditas mengalami penyesuaian:
* Gula pasir: Rp18.000 → Rp19.000/kg
* Beras ketan: Rp20.000 → Rp25.000/kg
* Gula merah: Rp17.000 → Rp18.000/kg
Pedagang setempat, Uus Kusmayadi, menyebut kenaikan terjadi hampir di semua lini, mulai dari plastik hingga bahan pokok.
“Kita bingung, plastik bukan lagi naik harga, tapi sudah ganti harga,” ujarnya.
Ia merinci lonjakan harga plastik yang cukup drastis: