Menurut laporan dari Yonhap News Agency, Indonesia bergabung dalam proyek ini untuk berbagi biaya pengembangan dengan Korea Selatan.
Sebagai imbalannya, Indonesia mendapatkan sejumlah keuntungan strategis, termasuk:
-
Transfer teknologi pesawat tempur
-
Akses terhadap prototipe pesawat
-
Kesempatan bagi industri pertahanan nasional untuk terlibat dalam pengembangan
Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan teknologi pertahanan Indonesia sekaligus meningkatkan kapasitas industri dirgantara dalam negeri.
Meski kesepakatan penyerahan prototipe telah dicapai, jadwal pasti pengiriman pesawat masih menunggu beberapa tahapan administratif.
Defense Acquisition Program Administration atau Badan Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan disebut akan menentukan jadwal penyerahan prototipe serta dokumen teknologi terkait.
Namun, proses tersebut baru dapat dilakukan setelah Indonesia menyelesaikan kewajiban kontribusinya dalam proyek bersama tersebut.
Nilai kontribusi Indonesia dalam proyek KF-21 saat ini mencapai sekitar 600 miliar won.
Indonesia Sempat Ajukan Penurunan Kontribusi
Pada awal proyek, Indonesia menyepakati untuk menanggung sekitar 20 persen dari total biaya pengembangan sebagai negara mitra.
Namun seiring berjalannya waktu, Indonesia mengusulkan penyesuaian kontribusi dengan alasan tertentu, termasuk kondisi anggaran.
Sebagai konsekuensinya, tingkat transfer teknologi yang diterima Indonesia juga disesuaikan.
Kesepakatan akhir terkait perubahan kontribusi tersebut ditandatangani oleh kedua negara pada Juni tahun lalu, yang menetapkan jumlah kontribusi Indonesia menjadi nilai yang disepakati saat ini.
Kerja sama dalam proyek KF-21 dinilai sebagai langkah strategis bagi kedua negara.
Bagi Korea Selatan, proyek ini menjadi bukti kemampuan industri pertahanan nasional dalam mengembangkan jet tempur modern secara mandiri.